Langsung ke konten utama

Alasan Tidak Berikan Harga Konsultan Oriflame ke Pelanggan (Bagian 1)




Memberikan harga konsultan kepada pelanggan adalah pelanggaran kode etik. Jadi sederhananya ketika konsultan tidak memberikan harga member kepada pelanggan karena dia mematuhi aturan yang berlaku di Oriflame. Sebagai konsultan tentu saja dia harus patuh pada aturan Oriflame. Tunduk pada etika. Karena ketika melanggar kode etik itu sama saja mengabaikan aturan yang harusnya dipatuhi.

Mengapa Oriflame membuat kode etik seperti itu?

Oriflame membuat aturan seperti itu tentunya ada pertimbangan demi keuntungan konsultan itu sendiri.

Harga konsultan Oriflame atau harga member adalah harga yang harus dibayarkan seorang konsultan saat membeli produk Oriflame. Harganya berbeda dengan yang tertera di katalog. Jika di katalog sudah ada diskon, maka konsultan akan mendapatkan harga diskon katalog ditambah diskon konsultan.

Selisih harga katalog dengan harga konsultan akan menjadi keuntungan langsung yang akan didapatkan oleh konsultan. Satu-satunya cara konsultan mendapatkan keuntungan langsung adalah dengan memanfaatkan selisih harga tersebut. Jadi kalau seorang konsultan menjual produk dengan harga konsultan kepada pelanggan, keuntungan langsung tidak akan didapatkan.

Takut tidak berhasil mengumpulkan poin memang menjadi momok banyak orang yang baru memulai bisnis Oriflame atau tidak paham kode etiknya. Di Oriflame pengumpulan poin memang memghasilkan beragam reward. Mulai dari beragam produk gratis dan juga penghasilan tidak langsung. Gara-gara takut poinnya sedikit banyak konsultan yang merelakan harga konsultan menjadi harga yang dibayarkan pelanggannya.

Padahal ada banyak hal yang harus ditanggung seorang konsultan.

1. Biaya pendaftaran
Setiap orang yang ingin menjadi konsultan harus membayar biaya pendaftaran dan setiap tahunnya ada renewal fee (biaya daftar ulang) sehingga konsultan harus punya penghasilan dari Oriflame jika tak ingin merugi.

2. Beli katalog

Katalog memang ada dua jenis. Katalog online dan offline. Khusus online memang gratis. Beda dengan katalog offline yang bisa disebar secara langsung ke pelanggan. Katalog offline harus beli jika ingin punya banyak. Kebayang tidak kalau kita kasih harga member ke pelanggan? Buat beli katalog kita lagi yang nombok.

3. Beli smartphone atau laptop
Untuk menjalankan bisnis Oriflame sekarang ini setidaknya kita harus online sekali setiap bulannya khusus untuk order barang. Belum lagi jika kita ingin belajar banyak hal dari internet yang menjelaskan tentang Oriflame. Setidaknya kita punya smartphone yang bisa digunakan buat internetan. Syukut-syukur punya laptop juga.

4. Beli paket data internet
Selain itu kita juga harus beli paket data internet untuk mengakses halaman Oriflame. Kalau tak punya paket data kita tak bisa login ke akun Oriflame kita.

Empat hal yang sudah saya sebutkan di atas adalah alasan terbesar mengapa kita sebagai konsultan Oriflame tidak memberikan harga konsultan ke pelanggan. Karena itu sangat merugikan kita. Untuk apa punya bisnis yang tidak berkembang gara-gara kita sendiri tidak mematuhi kode etik yang diberlakukan untuk membantu bisnis kita bertahan.

Belum lagi pelanggan yang suka membatalkan orderan padahal sudah ditalangkan. Itu juga cukup merugikan. Masih mau kasih harga member ke pelanggan


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan