1 September 2016

Menulis dengan Tangan



Dulu saya punya buku yang tebalnya 500 lembar. Berarti 1000 halaman. Warnanya merah, ukuran kuarto dengan hardcover. Saya senang sekali membawa buku itu kemanapun saya pergi. Isinya? Cerita fiksi ala saya. Ya, saya suka sekali menulis cerita fiksi dulunya. Dari sekolah dasar. Membuat cerita menjadi sangat menyenangkan karena rasanya banyak hal yang tak bisa saya lakukan bisa saya lakukan di dunia imajinasi. Seakan-akan tokoh utama perempuannya adalah saya.

Entah ke mana sekarang buku itu. Saya mengisinya setiap hari, setiap waktu, kapan saya sempat. Jika diibaratkan beda, buku itu sudah seperti ponsel saya. Selalu berada di tangan saya dan saya bawa ke mana-mana. Makanya saya sangat marah ketika ada yang mengambil kertas di dalamnya dengan alasan banyak kertas kosongnya. Orang buku itu mau saya pake kok malah diambil isi dalamnya.

Saya rindu menulis dengan tangan. Menulis dengan jemari sampai terasa kaku. Lembar demi lembar. Sampai tinta habis. Sampai butuh pulpen yang baru. Sepertinya saya akan melakukannya lagi seperti dulu. Berbeda sih rasanya menulis dengan keyboard dibandingkan dengan tangan. Apalagi sekarang liburan kuliah masih panjang. Masih banyak waktu untuk menulis dengan pulpen dan kertas.

Saya kembali ingat dengan masa SMP. Waktu suka bertukar obrolan menggunakan kertas dengan teman sebangku atau dengan teman di belakang bangku. Ada hal-hal yang tak bisa kita ucapkan tetapi bisa kita tuliskan. Itu ajaibnya menulis. Merapatkan banyak hal yang berjarak, tempat dan waktu.


Yuk menulis dengan pulpen!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers