5 September 2016

Ketika Tulisan Kehilangan Rasa

Cinta. Rasa cinta terhadap menulis yang selama ini saya pegang rasanya memudar dengan tuntutan kehidupan yang lebih besar. Apakah menulis untuk dapat uang? Atau dapat uang karena menulis. Dua-duanya punya perbedaan yang sangat besar. Ada hal-hal yang membuatnya berbeda.

Dulu saya menulis saja tanpa memikirkan untuk mendapatkan uang. Diri saya yang masih berusia 25 tahun itu. Saat pertama kali mendapatkan blog ini. Sama sekali tak memikirkan akan mendapatkan uang. Ketika diberikan blog ini saja sudah senangnya minta ampun. Rasanya saya memiliki sesuatu yang sangat berharga. Sesuatu yang menjadikan diri saya ada secara virtual. Maya.

Semakin lama saya menulis dan menemukan bahwa ada yang hambar dalam tulisan saya. Rasanya banyak 'rasa' yang memudar. Terlalu banyak pikiran saat menulis. Itu sebabnya. Produktivitas pun menurun drastis. Mood turun naik. Dulu, mood buruk pun saya masih bisa menulis. Menulis itu saya lakukan dalam keadaan apa pun.

Blog ini rasanya sangat berharga melebihi apa pun. Saat blog ini satu-satunya tempat saya mengadukan semua rasa yang saya punya. Betapa sepinya hidup saya waktu itu. Waktu semua orang memandang remeh saya dan saya terlalu peduli dengan pandangan orang. Terlalu mengambil hati sikap orang lain. Sementara saya pun tenggelam di dalamnya.

Sekarang saya tak tahu bagaimana pandangan orang terhadap saya. Selama kebahagiaan saya tidak mengganggu orang lain. Kesedihan saya tidak mengganggu orang lain. Saya pikir saya tak perlu terlampau banyak menghabiskan waktu untuk mendengarkan pendapat orang. Sudah terlalu banyak yang saya dengar.

Saya hanya ingin menulis saja. Menyusuri jalan sunyi. Tak peduli sendiri ataupun berdua. Jalan itu, ingin saya penuhi dengan lebih banyak tulisan lagi. Satu hal yang lebih suka saya hindari. Pamer. Karena pamer hanya mendatangkan orang yang membenci kita.

Dulu memang saya suka sekali pamer. Saya seakan ingin menunjukkan pada orang lain, ini lho saya. Saya ingin diakui. Ingin dianggap lebih dari orang lain. Hingga akhirnya saya sadar muncul orang yang kemudian mengulik-ngulik kehidupan saya lebih dalam.

Itu tidak menyenangkan. Saya tutup kotak komen karena lelah mendapatkan cercaan. Kadang saya sampai berpikir apakah saya memang akan terus mengalami hal yang tak menyenangkan sepanjang hidup saya.

Sampai akhirnya saya sadar apa yang saya inginkan saat menulis. Saya ingin memberikan rasa dalam tulisan-tulisan saya. Rasa yang sempat hilang padahal pernah ada di sana, lama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers