9 September 2016

Cerita Tentang Bawang (2)




Ini adalah bagian kedua dari potongan cerita masa kecil saya tentang bawang. Bawang merah dan putih. Di bagian sebelumnya saya sudah menceritakan tentang _pakattan_ yang tentu saja berkaitan erat dengan yang namanya pernikahan. Kalau sudah ada pernikahan akana ada pula yang namanya kenduri atau makan-makan. Di kampung saya makan-makannya dibagi menjadi dua hari. Hari kecil dan hari besar.

Pada hari kecil ini tamu akan makan makanan yang disediakan ala kadarnya. Lauknya ikan asin, sayur ubi, sayur labu, biasanya juga ada _cencalok_ yang memang merupakan makanan khas di tempat saya. Selain tradisi pakattan ada pula tradisi saprahan.

Saprahan di kampung saya adalah acara makan bersama dalam kelompok dan melantai. Biasanya satu saprah disediakan untuk enam orang. Enam piring untuk makan. Enam gelas air susu pandan. Orang yang makan besaprah akan berbagi lauk-pauk dan sayur-mayur yang disediakan oleh tuan rumah. Lauk-pauknya itu sumbernya sebagian dari pakattan. Termasuk nasi juga berasal dari pemberian orang yang diundang untuk acara kenduri tersebut alias _saro'an_.

Uwan (nenek) saya biasanya ikut membantu di dapur jika kenduri tersebut diadakan oleh keluarga dekat. Saya paling ingat acara kenduri di rumah Uwan Acik, masih sepupunya Aki (kakek, suaminya Uwan saya). Karena kami akan berjalan kaki ke sana lalu menginap satu malam sebelum hari besar.

Saya tidak terlalu ingat saya hadir di pernikahan siapa dulunya. Tapi saya sangat ingat bawang bakar yang saya makan di sana. Pada hari kecil orang dewasa akan sibuk menyiapkan lauk-pauk untuk esok hari. Terutama ayam yang harus dibersihkan dan disiapkan sebelum malam tiba. Malam harinya ayam sudah harus selesai diungkep dan bisa dimasak sesuai menu yang diinginkan tuan rumah.

Kami, anak-anak kecil, akan membawa tempurung kelapa dan berkerumun di dekat orang dewasa yang mengurus ayam. Rupa-rupa hati dan ampela ayam akan kami perebutkan. Setelah dapat akan kami masukkan dalam wadah tempurung kelapa. Dicuci bersih lalu diberi sedikit garam. Kemudian dibakar di tungku yang sedang menyala.

Iya, tungku tak akan berhenti menyala karena banyak sekali yang harus dimasak hari itu. Hati ayam dan ampela yang dibakar dengan bumbu garam sangat nikmat rasanya. Saya rindu sekali hari-hari masa kecil itu. Seandainya ada mesin waktu, ingin sekali saya kembali dan menemukan kenangan-kenangan yang sekarang tak bisa lagi saya dapatkan.

Berebutan dengan anak kecil lain, tentunya hati dan ampela yang saya dapatkan tidaklah banyak, sehingga biasanya Uwan Acik akan menambah menu yang bisa saya makan dengan bawang yang besar-besar. Bawang merah. Bawang putih. Dia akan memasukkannya ke bawah kuali, di bara api yang masih menyala dan membiarkan saya mengambilnya nanti ketika sudah matang.

Sudah pernahkah kamu makan bawang bakar? Itu nikmatnya luar biasa. Saya rindu sekali dengan bawang yang dibakar dengan tempurung kelapa. Suara-suara kaki anak-anak yang berlarian rasanya masih sangat terdengar jelas di telinga.

Saya rindu masa itu. Masa yang tak bisa saya kembalikan lagi.

1 komentar:

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers