Langsung ke konten utama

Food Stop Pontianak di Jalan Tanjungpura

Konsep seperti ini yang saya suka. Satu tempat punya banyak pilihan makanan dari tukang masak yang berbeda. Di Jalan Tanjungpura memang ada food stop tapi kantinnya tidak terlalu banyak sih. Nggak sampai sepuluh. Tapi bolehlah untuk dikunjungi beberapa kali karena nggak mungkin kita makan semua menu dalam satu kali mampir bukan?

Sebenarnya saya tak benar-benar punya tempat makan favorit. Apalagi sekarang saya mulai rajin lagi masak, bawaan libur kuliah, jadi nggak terlalu capek buat memasak setiap hari. Jadi saya lebih banyak makan masakan sendiri yang diklaim oleh beberapa orang semakin enak rasanya. Barangkali memang kemampuan masak saya ada kemajuan.

Food Stop ini konsepnya ya kurang lebih sama dengan tempat makan yang terdiri dari beberapa kantin dan digabung menjadi satu. Saya sudah dua kali mampir ke sini dan ada sih makanan yang cukup mengagumkan rasanya. Biar nanti saya tulis di postingan terpisah untuk ulasan makanannya. Kali ini mau bahas soal Food Stopnya saja.

Pencahayaan di tempat ini cukup bagus, jadi sangat memungkinkan bagi kita yang suka mengambil gambar tetap bisa menjepret di sini walaupun malam hari. Tidak perlu menggunakan flash dari smartphone saat mengambil gambar. Tinggal tentukan posisi duduk dan meja yang cahaya lampunya sesuai.

Pilihan makanannya cukup beragam mengingat di sini ada 8 kantin yang menyediakan makanan dan 1 kantin lagi menyediakan beragam pilihan minuman yang cukup menggugah selera. Datang ke sini buat kumpul bersama teman juga bakalan menyenangkan.

Bagi saya yang membawa anak kecil juga tak perlu khawatir karena ada kursi khusus anak-anak. Jadi saya dan suami tak perlu makan bergantian. Raza bisa duduk di kursinya sendiri sambil makan juga, disuapi saya dan suami bergantian mana makanan yang dia tunjuk.

Pelayanannya tidak buruk tapi juga bukan pelayanan yang bikin saya kaget karena ramahnya. Entah ke mana sekarang hilangnya keramahan banyak orang. Apakah karena penghasilan mereka kecil? Walaupun tidak mungkin sih sebenarnya sebab ada makanan yang saya rasa overpriced.

Sudah pernah mampir ke Food Stop? Cobain deh siapa tahu pengalaman kita beda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan