60 Tahun Astra

60 Tahun Astra

7 Juli 2016

Sibling Rivalry (Bagian 1)


Semuanya dimulai ketika saya baru lahir. Setidaknya itu yang saya tahu menjadi pemicu semua yang terjadi di dalam keluarga saya. Saya tidak menyesali menjadi diri saya yang sekarang. Harus mengalami sedemikian banyak hal yang menyakitkan. Sebab yang saya yakini adalah tak ada hidup yang sempurna. Tak ada orang yang bahagia jika tidak mensyukuri apa yang dia punya dan apa yang tak ada pada dirinya. Begitupun saya. Namun saya ingin berbagi kisah ini dengan cerita yang cukup panjang lebar. Untuk menemukan orang yang sama penderitaannya dengan saya. Menunjukkan pada mereka yang mungkin sampai sekarang bingung dengan apa yang terjadi di dalam hubungan keluarganya dan tak tahu harus bicara dengan siapa, saya juga ada di sini dan hanya bisa bicara banyak dengan blog saya.

Apa yang selama ini harus saya hadapi, sampai usia saya sekarang, masih terus berlangsung, cuma tidak seintens yang dulu karena saya sudah menikah, punya anak, dan keluarga sendiri. Sayangnya saya masih terlampau sering mengalami mimpi buruk. Terlalu buruk dan hampir setiap malam, saya bisa memimpikan orang yang sama berulang-ulang. Tidur menjadi sesuatu yang rasanya agak menakutkan untuk dinikmati.

Tiga puluh tahun lalu. Saya lahir dan hadir dalam kehidupannya. Dia yang seharusnya tak memiliki adik (ini pemikiran dia) dan tiba-tiba mendapatkan adik perempuan. Di awal tahun-tahun kami bersama dia tak pernah mau mengakui saya sebagai adik. Setiap orang menanyakan soal saya dia selalu menyatakan bahwa saya adalah anak pungut, adik angkat, anak suka A (suku yang tidak diterima lagi di daerah saya). Saya terlalu kecil untuk memahami penolakan yang dia berikan. Orang tua saya juga sangat awam untuk memahami bahwa ada bahaya besar yang menanti di dalam keluarga kami.

Sebagai adik saya sangat banyak mengalah. Mengalah pada banyak hal. Mengalah pada keadaan. Mengalah pada keegoisan kakak sulung saya. Menerima semua tamparan, jambakan, dan goresan pisau dari tangannya. Saya rasa, saya telah menyembuhkan luka fisik saya, tetapi luka di dalam jiwa saya masih menganga. Luka yang sampai sekarang tak pernah bisa saya sembuhnya. Sekuat apa pun saya mencoba. Sedalam apa pun saya menenggelamkan diri pada berbagai hal yang ada.

Saya masih terluka. Sakit. Berkubang dalam darah saya sendiri. Dia sendiri tak pernah kehabisan cara untuk melukai saya dan adik-adiknya yang lain. Tapi dari semua orang yang dia lukai, memang selalu saya yang menjadi sasaran yang paling dia incar.

Padahal setiap kali saya melihat foto masa kecil kami, saya tak melihat ada kebencian di sana. Saya rindu melihat senyumannya semasa dulu. Di saat dia menjadi cucu yang paling cantik dan pintar di keluarga kami. Saya rindu dia yang bangga dengan dirinya sendiri. Dirinya yang selalu menjadi teladan di sekolahnya karena selalu ranking. Saya rindu dengannya yang percaya diri di depan teman-temannya menyanyikan banyak lagu anak-anak.

Dia berbeda dan kami tidak menghadapi perbedaan itu sejak pertama. Saya, orang tua saya, kakek nenek saya, membiarkan perbedaan itu dan menuruti semua kemauannya. Itu yang membuat semuanya menjadi sangat buruk sekarang. Seburuk apa? Nanti saya cerita lagi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers