29 Juli 2016

Sibling Rivalry (2)


Kakak saya orangnya saya cemburuan. Dia ingin memiliki orang tua saya, terutama Umak, hanya untuk dirinya sendiri, yang mana hal itu adalah sesuatu yang tak mungkin sebab ibu saya punya lima anak termasuk dia. Dia semakin bertambah usianya dan perhatian orang tua akan pindah ke anak yang lebih muda, itu sangat wajar bukan?

Sejak kecil saya selalu menjadi 'anak angkat' dan dia yang menjadi 'anak emas'. Dia selalu memiliki apa yang dia inginkan, sedangkan saya dan adik perempuan saya menerima apa yang boleh diberikan orang tua kami atas pengawasan dirinya. Sehingga tak jarang orang tua saya harus sembunyi-sembunyi memberikan sesuatu untuk 'mengadilkan' situasi. Harusnya adil itu terang-terangan. Untuk menunjukkan pada dirinya bahwa dunia ini tak bisa berjalan seperti yang dia inginkan. Dia yang harus beradaptasi denga n keadaan.

Mana pernah botol harus mengikuti keinginan air?

Sebenarnya saya mencoba melupakan kakak sulung saya. Menghapus ingatan saya tentangnya. Menghilangkannya dari mimpi buruk saya. Tetapi dia sudah ada sejak saya lahir dan menunggu waktu untuk menyakiti saya. Saya ingat betul bagaimana liciknya dia menunggu saya di balik gorden pintu tengah. Ketika saya berlari melintasi pintu tersebut dia akan melayangkan tamparannya ke pipi saya. Dia selalu mencari cara untuk menyakiti saya. Setiap hari berkali-kali.

Dia tidak mendapatkan hukuman atas kelakuannya tersebut. Iya memang dia diomeli tapi kemudian dia mengulanginya lagi... dan lagi. Sampai yang terpikirkan dalam kepala saya semasa kecil dulu hanyalah saya ingin cepat besar. Cepat pergi dari rumah dan cepat pergi dari dia. Saya hanya ingin menjauh dari saudara sulung saya bagaimana pun caranya karena saya sangat lelah menjadi adiknya.

Masa depan yang entah seperti apa. Satu hal yang paling membahagiakan hanyalah tak bertemu dengannya setiap hari. Tak perlu bertengkar dan disakiti olehnya. Saya tak bisa menghitung berapa banyak kami saling jambak, saling tampar, saling maki. Ketika saya mulai remaja saya akhirnya mulai berani melawan. Apalagi ketika saya remaja saya lebih besar dari dia. Sementara dia tetap pendek dan kecil.

Dan dia menyalahkan kami mendapatkan gizi yang baik dan dia gizinya buruk. Padahal kami tumbuh besar di rumah yang sama.

Dulu saya percaya betul soal mitos yang menyatakan bahwa punya 3 anak perempuan tidak pernah akan akur. Makanya dia sedemikian jahatnya dan selalu saja memicu pertengkaran. Padahal nyatanya tidak demikian di keluarga orang lain. Saya pikir itu normal saja. Sama sekali enggak! Kakak saya tidak normal. Dia menderita Sibling Rivalry yang sampai sekarang tidak sembuh. Karena sejak awal tak ada penyembuhan dari keluarga kami.

Kurangnya informasi mengenai penyakit ini, berdampak pada pembiaran bertahun-tahun, dan sekarang sudah akut. Saya saja tak bisa bertemu langsung dengannya, jika tidak, siap-siap dia akan memaki dan mencakar saya.

Bagaimana dengan lebaran? Tidak pulang dong?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers