60 Tahun Astra

60 Tahun Astra

3 Juli 2016

Menulis Itu Bikin Waras!


Terkadang saya merasa tingkat ketidakwarasan saya turun naik. Saya merasa gila. Saya merasa orang lain normal dan saya tak biasa-biasa saja. Saya berharapnya saya bisa seperti orang lain. Lalu pada akhirnya saya sadar bahwa setiap orang punya sisi gelapnya masing-masing. Punya ketidaksempurnaan di dalam hidupnya. Sebab tak ada hidup yang sempurna. Pun hidup saya, Anda yang sedang membaca tulisan ini. Kita bukanlah mahluk yang sempurna dan tak perlu bersikeras untuk menjadi yang paling sempurna.

Di satu titik, saat saya merasa kegilaan saya sudah bercampur delusi tinggi dan mimpi buruk tanpa ujung. Saya akhirnya kembali ke papan ketik dan menulis lebih banyak. Lebih cepat. Menulis itu bikin saya waras. Rasanya. Proses menulis yang panjang, membuat saya menjadi lebih sadar akan dunia ini. Bahwa hidup itu indah. Bahwa hidup itu harus diteruskan. Bahwa hidup itu harus mengeluarkan sebanyak mungkin kata-kata yang saya suka, supaya saya tidak gila.

Menulis itu adalah terapi yang saya lakukan sejak kecil. Sejak saya mengerti bahwa saya dan keluarga saya berbeda. Walaupun tak ada keluarga yang sempurna, yang saya tahu, bahwa tak semua keluarga punya seorang saudara seperti kakak saya. Apakah saya marah karena punya kakak seperti dia? Dulu, lama sudah saya marah dengan keadaan. Dengan hal-hal yang tak bisa saya ubah. Takdir namanya. Nasib masih bisa saya usahakan. Tetapi takdir, bagaimana saya menjangkau masa di mana bahkan saya sendiri tak ada. Mengubah siapa nenek moyang saya atau setidaknya mengubah orang tua saya?

Terkadang saya ingin bercerita dengan orang lain. Sesama manusia. Setidaknya bukan suami saya. Dengan lebih banyak orang. Supaya lebih lega. Namun saya yakin, banyak yang tak akan percaya dengan cerita saya. Bahkan beberapa orang yang saya kenal sendiri pun menunjukkan ketidaktertarikan karena mereka ragu dengan kebenaran cerita tersebut. Nanti saya akan cerita dalam bentuk lisan. Bukan untuk membuat orang lain percaya bahwa hal tersebut nyata. Melainkan saya hanya ingin merasakan bagaimana rasanya 'didengarkan'.

Ada hal-hal yang tak terjangkau yang sekarang saya terima saja. Apakah saya menyerah dengan keadaan itu? Saya tak ingin menyerah, saya hanya mengambil langkah mundur sedikit lalu maju ke tempat lain. Karena saya lelah dengan banyak hal yang saya hadapi lebih dari 20 tahun ini. Semenjak saya lahir saya berhadapan dengan hal yang sama yang makin lama semakin besar. Salah siapa? Semuanya punya andil dalam membiarkan hal ini terus berlarut dan akhirnya membesar. Semakin besar semakin sulit dikendalikan dan akhirnya tinggal menunggu ledakan besarnya.

Saya hampir meledak terkadang. Takut memandang wajah sendiri di cermin. Rasanya wajah orang itu orang yang tak saya kenal. Dia begitu berbeda. Dia bukan saya. Dia orang yang penuh dengan ketakutan. Ketakutan yang sampai harus dia hadapi di alam mimpi sekalipun. Cerita ini akan sangat panjang. Cerita dimulai dari 30 tahun yang lalu. Saat saya baru lahir.

Tapi saya tak akan memperpanjang postingan ini.


Sumber gambar: http://kemandirianfinansial.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers