30 Juli 2016

Koruptor Itu Harusnya Diapain Ya?



Sebelum menuliskan ini rasanya saya harus menarik napas sepanjang mungkin. Karena saya kesal dengan hukum di Indonesia. Seandainya saya bisa mengatur hukum negara ini, hukum yang paling ingin saya revisi adalah hukuman buat koruptor. Mereka pencuri semua hak rakyat negara ini lho. Kebayang uang yang mereka curi itu bisa jadi apa bagi kemajuan negara kita. Negara kita kalah maju memang jika dibandingkan dengan Jepang. Yaiyalah Jepang dijadikan tolok ukur.

Sebelum saya ngomongin soal koruptor hukuman yang paling oke buat mereka apa, saya mau bahas soal negara sebelah dulu. Itu lho negeri jiran. Saya pikir negara mereka sudah sempurna lho. Transportasinya keren. Masyarakatnya aman damai sejahtera. Lalu beberapa kali saya menemukan juga orang yang bisa menunjukkan sisi kurangnya negara mereka. Yah pada akhirnya nggak ada negara yang sempurna kok. Bahkan negara Jepang sekalipun. Daripada sibuk mencerca negara sendiri saya pikir bagaimana kita mendidik anak-anak kita demi memajukan negara kita ke depannya. Sebab mereka yang akan memegang tampuk pemerintahan di masa depan.

Jika menara ini masih banyak kuroptornya yang salah siapa? Setiap orang punya andil bahkan jangan-jangan kita sendiri sudah memiliki mental koruptor? Mental yang butuh tempat buat mengeksekusinya lalu tak semua orang punya kesempatan untuk melakukan yang namanya korupsi. Orang yang punya kesempatan enak-enak menikmati uang negara lalu yang tak kebagian akan teriak-teriak untuk meminta hukuman seberat-beratnya bagi koruptor. Apakah kita benar-benar mua k dengan tindakan koruptor atau kita sendiri muak dengan ketiadaannya kesempatan untuk mendapatkan uang hasil korupsi itu?

Namun, karena kita bukan bagian dari koruptor itu sendiri, kita boleh mengatakan bahwa kita tidak mendukung tindakan korupsi dan kita punya andil untuk memusnahkan korupsi dari negara tercinta ini. Tak dapat saya bayangkan bagaimana majunya Indonesia ini saat semua orang tak mengutamakan kepentingannya sendiri dan melupakan kepentingan orang lain. Kepentingan rakyat banyak yang bernama anak-anak kita. Mereka tak lain adalah anak-anak kita, anak-anak Indonesia. Apakah kita rela anak-anak kita berada di negara yang tak maju karena orang tuanya bermental korupsi? Melakukan tindakan korupsi dan akhirnya menjadi koruptor.

Dulu, waktu saya pertama kali mendengar kata korupsi saya pikir Edy Tansil itu punya bisnis sekrup. SEKRUP. Karena kata korupsi terdengar seperti ada hubungannya dengan sekrup. Tak terpikirkan yang dia lakukan adalah mencuri uang negara dalam jumlah sangat banyak. Hingga akhirnya seiring berjalannya waktu saya sadar bahwa saya salah. Salah besar. Korupsi tak ada hubungannya dengan sekrup.

Koruptor yang paling mencuri perhatian tentu saja Gayus Tambunan. Namanya sangat fenomenal dengan segala aksinya setelah di jeruji besi. Bisa keluar masuk seenak hati, sebelum akhirnya banyak yang menyorot dan sepertinya dia tak punya banyak kesempatan buat jalan-jalan nonton pertandingan olah raga. Satu hal yang saya ingat dari Gayus adalah ketika dia bilang 'Apa kalian baru puas kalau sudah melihat saya menderita?'. Setidaknya begitu bunyi kalimatnya saat dia disorot kamera satu stasiun televisi swasta yang mengangkat tema tentang koruptor.

Saya jadi kepikiran apa sih yang bakalan membuat orang yang melakukan tindakan korupsi itu menderita? Yap! Kemiskinan. Bukankah itu yang membuat mereka melakukan korupsi? Mereka takut miskin, daripada mereka dihukum di balik jeruji mendingan dimiskinkan saja. Diambil semua hartanya dan diberikan kartu identitas baru, kartu identitas koruptor. Tidak boleh punya paspor. Tidak boleh punya harta, terus keberadaan mereka ditanggung negara. Lalu mereka diberikan pekerjaan di bidang sosial. Misalnya tukang sapu jalan atau tukang angkut sampah.

Daripada memenjarakan mereka mendingan mereka semua dapat rumah susun khusus untuk koruptor dan hanya boleh mengenakan pakaian yang menandakan mereka adalah koruptor atau keluarga koruptor. Sehingga masyarakat bisa membedakan mana koruptor dan mana bukan. Mereka tak boleh pegang uang. Apa yang mereka dapatkan dari negara ya hanya sandang, papan, pangan. Itu saja. Tak lebih. Hukumannya sampai kapan? Ya sampai ajal menjemput.


Lumayan kan Indonesia bakalan punya banyak sekali pekerja sosial yang nggak perlu digaji pake uang. Paling penting ya hukuman mereka itu tadi. Dimiskinkan. Itu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers