60 Tahun Astra

60 Tahun Astra

22 Juni 2016

Virus Melanggar Aturan Itu Menular!



Tidak percaya? Coba lihat deh kalau ada orang yang menerobos lampu merah terus tiba-tiba ada yang menjadi pengikutnya. Ikutan nerobos juga. Saya nggak habis pikir sama orang yang melanggar aturan di jalan raya. Gini deh, aturan dibuat supaya kita tertiba dan lalu lintas menjadi lancar. Kalau aturan itu dilanggar, bukankah kita sedang merusak sistem? Kalau sistemnya rusak otomatis akan terjadi kekacauan. Tabrakan sampai berujung kematian.

Menyebalkan.

Setiap kali ada yang melanggar aturan berkendara saya hanya bisa memasang wajah sebal karena tak tahan melihatnya. Pengennya sih langsung negur tapi kadang posisi kita yang tak memungkinkan untuk melakukan itu. Belum lagi orang yang mau ditegur kayaknya anak alay yang masih di bawah umur. Untuk pelanggaran tidak menggunakan helm selama berkendara saya sih nggak terlalu peduli ya. Sebab itu urusan dirinya dengan kepalanya. Beda cerita kalau yang dia lakukan itu membahayakan nyawa orang lain. Semacam mengetak-ngetek HP selama mengendarai sepeda motor. Melanggar aturan belok atau langsung jalan saat lampu rambu-rambu masih merah.

Semakin ke sini semakin banyak sekali orang di Pontianak ini yang suka melanggar aturan. Penyebabnya macam-macam sih. Paling banyak menurut saya karena melihat contoh di sekitar. Satu orang melanggar yang lain jadi tertular dan ikutan melanggar sebab merasa rugi saat orang lain melanggar dan dia tertib. Nggak usah ngomongin dosa atau pahala-lah ya. Sayang nyawa nggak sih mereka itu?

Jangan-jangan mereka bekal 33 nyawa selama mengendarai sepeda motor di jalan raya. Pengendara yang mati karena kecelakaan berlalu-lintas banyak sekali jumlahnya di Indonesia. Angka yang masih tinggi. Tanpa bisa diprediksi umur berapa yang akan meninggal lebih dulu kalau sudah berkaitan dengan lakalantas ini. Kapan ya kita akan melihat Indonesia ini punya masyarakat yang lebih tertib. Setidaknya banyak yang lebih tertib dibandingkan yang masih suka melanggar aturan. Tak dapat saya bayangkan bagaimana nantinya saya harus mengajari anak saya untuk tertib di jalan saat mereka setiap hari melihat banyak orang terus melanggar aturan.

Kita adalah contoh bagi anak-anak kita. Sekarang kita dengan mudahnya menyepelekan aturan yang ada di jalan raya, tunggu waktunya anak kita yang menjadi pengendara. Apa yang akan mereka lakukan jika terbiasa diajari orang tuanya untuk tidak tertib. Mereka belajar dari contoh. Kita adalah teladan bagi mereka. Bisa jadi teladan yang baik bisa pula menjadi teladan paling buruk yang pernah mereka punya. Menyedihkan bukan?

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Negara kita tidak akan maju jika kita terus punya mental seperti ini. Egois dan tak peduli dengan orang lain. Jangan sibuk menyalahkan pemerintah yang membuat Indonesia lebih buruk jika kita sendiri masih suka membuang sampah sembarang. Masih menorobos lampu merah di jalan. Bahkan suka merokok di depan orang lain tanpa ada rasa malu padahal sudah mengganggu kenyamanan orang lain untuk bernapas.

Nah rokok ini juga satu masalah yang cukup besar jika dilakukan sambil berkendara. Banyak sekali perokok aktif yang suka merokok sambil bawa motor. Ini juga sangat mengherankan. Apa nikmatnya mereka merokok dengan banyak angin seperti itu? Bukannya malah lebih banyak angin yang meniup rokoknya dibandingkan mereka menghisapnya? Terus orang yang di belakang bisa jadi akan kena percikan apinya dari rokok tersebut.

Ah macam-macam saja yang terjadi di Pontianak ini. Melalui tulisan ini saya hanya ingin mengetuk hati teman-teman yang setiap hari berkendara, yuk kita lebih tertib. Bukan hal yang sulit untuk dilakukan asal kita punya kemauan untuk melakukannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers