16 April 2016

Cerita Melahirkan (2)


Sebentar lagi usia Raza setahun. Tak terasa laki-laki kecil itu melewati tahun pertamanya dengan sangat baik. Alhamdulillah dia sangat sehat. Perkembangannya juga normal. Saya beruntung menjadi ibunya. Setiap pagi dialah yang akan membangunkan saya. Setiap kali saya patah semangat, saya melihat masa depan di matanya. Senyumannya menguatkan saya. Mau segimana pun banyaknya masalah dalam hidup ini rasanya nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang saya punya sekarang. Harta saya. Raza.

The best thing I ever had.

Dulu saya hanya bisa menulis surat untuknya. Tanpa pernah tahu dia bakalan kayak siapa. Sekarang saya sudha menggendongnya setiap hari. Tidur di sampingnya. Melihatnya tertawa. Padahal tahun lalu saya masih berada di rumah sakit menunggu jam-jam menuju kelahiran. Hari yang rasanya sangat panjang. Waktu itu saya hanya bisa bilang sama diri saya bahwa hari ini akan berakhir, hari ini akan berakhir. Begitu berulang-ulang sampai saya bisa meredakan sakit di perut saya.

Sakitnya kontraksi itu hilang datang sih sebenarnya. Kadang sakit terus menghilang. Lalu sakit lagi. Sampai akhirnya saya tertidur ketika sudah pembukaan 5. Malam hari sih jam 9 lewat gitu. Dokter memeriksa calon ibu yang berada di ruangan bersalin termasuk saya. Ternyata pembukaan saya berhenti dan saya dikasih pilihan buat induksi atau operasi. Gemetar sekali saya mendengar kata operasi.

Saya memang sudah pernah menjalani operasi sebelumnya tapi bukan membelah perut. Hanya bagian payudara dulu yang sempat di operasi. Tidak mengerikan seperti membayangkan operasi untuk melahirkan. Saya pilih induksi akhirnya. Dibandingkan harus operasi. Saya masih ingin mengeluarkan anak saya lewat jalur yang seharusnya. Melalui pintu bukan jendela. Kecuali memang sudah tidak memungkinkan lagi dan bahaya buat bayinya ya mau nggak mau saya berada di meja operasi.

Apalagi Raza sudah lewat banget dari prakiraan dokter masa kelahirannya. Dari semua versi tak ada yang benar. Semua dokter salah memperkirakannya begitu juga bidan. Waktu diberi obat untuk merangsang bayinya supaya keluar, saya tidak merasakan kesakitan yang berlebihan. Sakitnya awalnya pelan lalu makin kuat dan makin kuat. Nggak kayak kontraksi normal yang sebelumnya. Sudah tak mampu rasanya menahannya. Saya sampai bolak-balik dan tak mampu menahan bibir saya untuk mengeluh dan mengaduh. Duduk baring, duduk baring. Begitu semalaman sampai pagi.


Suami saya pasti lelah. Saya juga lelah sekali. Padahal saya masih butuh tenaga untuk mengeluarkan Raza. Tapi saya sudah terlalu kesakitan. Saya ingin menyerah. Sudah cukup. Operasi saja! Operasi saja! Operasi saja! Itu yang paling saya ingat pagi Selasa, hari itu. Saya sudah nggak kuat dengan kontraksi dari obat perangsang. Sudah terlalu menyakitkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers