15 April 2016

Cerita Melahirkan (1)


Setelah hampir setahun yang lalu saya melahirkan Raza. Laki-laki kecil yang sekarang sedang belajar berdiri dengan gusi yang masih tak bergigi. Yap. Masih belum ada giginya. Membuat saya sangat lega. Karena sejak awal saya takut sekali dia akan cepat tumbuh gigi dan saya harus meringis saat dia menyusu. But hey, Raza memang selalu pengertian bukan? Dia tidak lahir di saat saya belum selesai ujian tengah semester. Dia juga anteng ditinggal kuliah saat masih belum genap 40 hari. Dia selalu mengerti.

Sekarang juga dia sangat mengerti bahwa ibunya takut dia tumbuh gigi. Walaupun dia bakalan lucu banget kalo sudah punya gigi.

Waktu itu hari Senin. Pagi. Saya merasa perut saya sakit sekali. Sebelumnya juga pernah sakit tapi masih bisa ditahan. Lalu waktu itu sakitnya semakin menjadi dan saya sudah nggak kuat. Akhirnya suami saya langsung membawa saya ke rumah sakit yang kami pilih sejak pertama. Rumah Sakit Bersalin Jeumpa. Saya senang telah memilih rumah sakit ini karena ternyata makanannya enak sekali.

Ternyata sampai di sana pembukaannya baru 1. Masih panjang pembukaan yang akan saya lewati. Menuju ke pembukaan 10. Walaupun ada juga orang yang melahirkan anaknya sampai pembukaan 8 saja. Perut saya berat sekali. Ketika saya diminta untuk jalan-jalan di dalam rumah sakit sementara menunggu pembukaannya saya sudah nggak kuat untuk berdiri. Benar-benar berat dan menyakitkan ketika di bawa berdiri.

Sudah mencoba untuk melangkahkan kaki beberapa langkah tapi kemudian saya menyerah. Ah hari yang saya takutkan akhirnya tiba juga. Padahal saya pikir saya tidak akan melahirkan dalam waktu dekat. Sebab tak merencanakan untuk hamil segera setelah menikah. Saya takut tak bisa menjadi ibu yang baik untuk anak saya. Saya takut mental saya tak cukup kuat untuk menghadapi seorang anak. Apalagi saya waktu itu sedang menjalani perkuliahan. Seandainya saya tahu waktu itu saya sedang hamil mungkin saya tidak akan memilih untuk masuk ke STBA. Setidaknya menundanya lagi sampai ada waktu lain untuk kuliah dan menjadi mahasiswi lagi.

Semuanya sudah terlanjur sih. Sudah terlanjur kuliah. Sudah terlanjur hamil. Dan hari itu saya siap nggak siap akan menjadi seorang ibu. Saya masih bisa menahan sakitnya sih. Nggak sampe teriak atau menangis. Hanya mengaduh sedikit. Menelpon ibu saya supaya memberikan dukungan. Saat itu saya menyadari bahwa betapa besarnya perjuangan ibu saya untuk anak-anaknya. Detik itu juga saya merasa bahwa sedikit sekali yang telah saya lakukan untuknya. Bahwa apa pun yang selama ini saya lakukan nggak ada apa-apanya dengan yang telah dia lakukan.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers