Langsung ke konten utama

Cerita Melahirkan (1)


Setelah hampir setahun yang lalu saya melahirkan Raza. Laki-laki kecil yang sekarang sedang belajar berdiri dengan gusi yang masih tak bergigi. Yap. Masih belum ada giginya. Membuat saya sangat lega. Karena sejak awal saya takut sekali dia akan cepat tumbuh gigi dan saya harus meringis saat dia menyusu. But hey, Raza memang selalu pengertian bukan? Dia tidak lahir di saat saya belum selesai ujian tengah semester. Dia juga anteng ditinggal kuliah saat masih belum genap 40 hari. Dia selalu mengerti.

Sekarang juga dia sangat mengerti bahwa ibunya takut dia tumbuh gigi. Walaupun dia bakalan lucu banget kalo sudah punya gigi.

Waktu itu hari Senin. Pagi. Saya merasa perut saya sakit sekali. Sebelumnya juga pernah sakit tapi masih bisa ditahan. Lalu waktu itu sakitnya semakin menjadi dan saya sudah nggak kuat. Akhirnya suami saya langsung membawa saya ke rumah sakit yang kami pilih sejak pertama. Rumah Sakit Bersalin Jeumpa. Saya senang telah memilih rumah sakit ini karena ternyata makanannya enak sekali.

Ternyata sampai di sana pembukaannya baru 1. Masih panjang pembukaan yang akan saya lewati. Menuju ke pembukaan 10. Walaupun ada juga orang yang melahirkan anaknya sampai pembukaan 8 saja. Perut saya berat sekali. Ketika saya diminta untuk jalan-jalan di dalam rumah sakit sementara menunggu pembukaannya saya sudah nggak kuat untuk berdiri. Benar-benar berat dan menyakitkan ketika di bawa berdiri.

Sudah mencoba untuk melangkahkan kaki beberapa langkah tapi kemudian saya menyerah. Ah hari yang saya takutkan akhirnya tiba juga. Padahal saya pikir saya tidak akan melahirkan dalam waktu dekat. Sebab tak merencanakan untuk hamil segera setelah menikah. Saya takut tak bisa menjadi ibu yang baik untuk anak saya. Saya takut mental saya tak cukup kuat untuk menghadapi seorang anak. Apalagi saya waktu itu sedang menjalani perkuliahan. Seandainya saya tahu waktu itu saya sedang hamil mungkin saya tidak akan memilih untuk masuk ke STBA. Setidaknya menundanya lagi sampai ada waktu lain untuk kuliah dan menjadi mahasiswi lagi.

Semuanya sudah terlanjur sih. Sudah terlanjur kuliah. Sudah terlanjur hamil. Dan hari itu saya siap nggak siap akan menjadi seorang ibu. Saya masih bisa menahan sakitnya sih. Nggak sampe teriak atau menangis. Hanya mengaduh sedikit. Menelpon ibu saya supaya memberikan dukungan. Saat itu saya menyadari bahwa betapa besarnya perjuangan ibu saya untuk anak-anaknya. Detik itu juga saya merasa bahwa sedikit sekali yang telah saya lakukan untuknya. Bahwa apa pun yang selama ini saya lakukan nggak ada apa-apanya dengan yang telah dia lakukan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana.
Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai.
Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukannya akan disebut …

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha...


Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrsatu ya! 1. …

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan. 
Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya.
Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Termas…