Langsung ke konten utama

Mengubah Android Menjadi CPU


Sudah beberapa hari ini memang saya tidak menuliskan apa pun di blog. Entah mengapa ada firasat kurang baik terhadap desktop yang selama 3 tahun terakhir ini saya gunakan. Sampai akhirnya saya mendapati bahwa desktop tersebut rusak. Menyebalkan. Tentu saja. Masalahnya saya punya banyak pekerjaan yang melibatkan dirinya. Belum lagi kelemahan android dengan layar sentuh untuk pengetikan cepat sangat kurang ramah. Walaupun ada beberapa pekerjaan yang harus selesai mau tak mau diselesaikan menggunakan android. Hasilnya ya tentu nggak maksimal.

Kabar buruk lainnya setelah suami saya membawa CPU tersebut ke ‘bengkel’, ditemukan bahwa mainboardnya rusak. Buat yang belum tahu, sebelumnya saya sudah merusak banyak notebook dan sekarang akhirnya desktop. Jadi membeli komputer baru lagi bukan pilihan yang bijak. Ada sih yang ingin saya beli tadinya. Ultra mini PC. Ternyata banyak yang menyediakannya dengan harga terjangkau.

Menarik. Tadinya sangat menarik. Sampai akhirnya saya tiba pada sebuah pilihan untuk ‘mengakali’-nya menggunakan android yang setiap hari saya gunakan. Daripada saya merusak komputer lagi mendingan melakukan sesuatu yang berbeda kali ini. Sepanjang saya menggunakan smartphone merek Samsung, belum pernah saya ‘menghancurkannya’. Paling buruk hanya hang dan masih bisa diantisipasi dengan merestartnya.

Sebelumnya saya juga berbagi dengan teman-teman blogger Pontianak yang memang beberapa diantaranya jago soal komputer. Saya juga jago sih. Jago ngerusaknya. Ada yang membagikan soal ‘mengakali’ kebutuhan ngeblog saya yang agak tidak nyaman menggunakan android. Terutama bagian mengetiknya.

Di sebuah video di Youtube diperlihatkan oleh teman-teman dari SobatHape yang mengakali kebutuhan mereka akan notebook menggunakan tablet yang sudah ada Windows 10-nya. Original meeeen... Itu yang saya suka. Bukan menggunakan aplikasi bajakan. Kalau beli yang asli tanpa perangkat ya harganya nyamain 1 laptop yang lumayan. Pasti banyak yang sayang membeli yang original sehingga banyak sekali orang yang membajak Windows.

Saya sendiri sudah lama menggunakan Linux karena merasa lebih tentram di hati. Karena menggunakan produk yang tidak melanggar hak cipta orang.

Kembali lagi masalah mengakali kebutuhan saya akan CPU yang bisa digunakan di mana saja dan tentunya nggak gampang rusak saya akhirnya mencoba memaksimalkan kinerja smartphone saya. Daripada saya beli laptop mahal-mahal dan bawanya berat-berat. Mendingan saya tambahkan beberapa aksesoris yang bisa mengubah smartphone saya menjadi sebuah desktop. Kira-kira begitulah. Desktop yang bisa bertransformasi menjadi komputer rumahan, netbook yang bisa dibawa ke mana saja, kemudian masuk dalam saku menjadi HP yang bisa menjadi media komunikasi saya dengan banyak orang.

Nilai plusnya? Saya tidak butuh modem tambahan karena dia adalah modem itu sendiri. Cari di mana coba alat yang secanggih ini?

Saya hanya membeli dua alat tambahan karena kebetulan yang ada di rumah hanya keyboard lama dengan colokan bulat bukan port USB, terus 1 kabel OTG yang lubang USB-nya cuma satu. Nggak butuh keahlian tingkat tinggi kok untuk merakitnya. Sambungkan saja mouse dan keyboard ke kabel OTG menggunakan terminal USB. Iya saya beli keyboard baru yang colokannya menggunakan colokan USB. Terus juga beli 1 terminal USB yang ada 4 lubang USB-nya. Harganya murah kok. Hanya 65ribu. Bergantung sih beli merek apa. Saya belinya yang ada kabelnya. Mengingat mau coba-coba dulu. Kalo memang seru menggunakannya ada kepikiran juga beli keyboard bluetooth sehingga ketika smartphonenya kehabisan batre tetap bisa diisi dayanya sebab lubang chargernya tidak terganggu.

Oiya tulisan ini sudah menggunakan komputer rakitan saya menggunakan android ya. Buat yang butuh netbook buat diperjalanan nggak ada salahnya buat merangkai netbook amatiran kayak gini. Lumayan nyaman karena saya menggunakan keyboard yang besar seperti keyboard saya sebelumnya. Terus untuk mengetik juga bisa menggunakan aplikasi Microsoft Office. Kebetulan juga gratis buat android. Bukan membajak.

Soal ngeprint juga sudah teratasi dengan StarPrint. So far so goodlah. Kalau memang mau layarnya lebih besar bisa dikoneksikan lagi ke televisi monitor. Selamat mencoba.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan