Langsung ke konten utama

Kinetic Sand: Mainan Edukatif untuk Anak


Siapa di sini yang merupakan generasi 90-an? Acungkan telunjuknya ya! Aduh rindu sekali dengan masa kecil saya sebagai generasu 90-an. Di masa tersebut belum ada gadget. Bahkan belum ada listrik di tempat saya. Pokoknya kampung yang terpencil banget dulunya tempat kelahiran saya itu. Dari banyak permainan yang pernah saya mainkan bersama teman-teman saya ada permainan yang biasanya saya mainkan sendiri. Iya saya nggak jarang main sendiri di halaman atau di dalam rumah. Ada satu permainan favorit yang sering saya mainkan sendiri lho teman-teman.

Main apa?

Main pasir. Wih sekarang ngetrendnya namanya tuh kinetic sand. Termasuk pula dalam permainan edukatif. Saya beruntung banget dong ya dulu tinggal di kampung. Pasir banyak. Main pasir nggak dimarahin. Suka ngumpulin wadah buat bikin kue dari pasir. Saya suka sekali menggali tanah di halaman rumah nenek saya. Di situ ada bermacam-macam warna pasir. Ada yang putih, hitam, agak oren, dan kadang agak merah.

Pasir itu akan saya kumpulin dan dijadikan bahan bikin kue. Caranya ya dibentuk menggunakan wadah. Bikin kue lapis misalnya, ya tiap warna dimasukin ke wadah. Ditekan-tekan biar padat. Terus ditimpa lagi dengan pasir yang warnanya paling kontras. Habis itu mengeluarkannya pelan-pelan ada di atas wadah yang datang semacam piring mainan. Terus untuk melihat lapisan warna kuenya, segera dilakukan pemotongan.

Itu permainan yang sangat sederhana. Tapi saya senang sekali bisa melakukannya dulu. Biarpun sendirian saya sangat menikmatinya. Ternyata itu permainan yang bagus ya buat tumbuh kembang anak. Nggak kebayang kalo saya dulu nggak sibuk main pasir di halaman rumah nenek saya, pasti nggak akan ada tulisan ini yang menceritakan betapa bahagianya masa kecil saya. Di satu sisi memang ada yang tidak membahagiakan namun itu hanya bagian kecil yang membentuk saya menjadi diri saya yang sekarang.

Nanti kalau Raza sudah cukup besar dan mengerti bahwa tak semua benda harus dicek menggunakan lidah dan mulut, saya akan menyediakan pasir buat dia main. Seperti saya yang senang memainkan pasir waktu masih kecil dulu. Apalagi kinetic sand ini warnanya ngejreng-ngejreng. Bakalan menarik banget buat anak-anak. Saya pengen bikin kue pasir kayak saya masih kecil dulu. Ah sudah nggak sabar mengajak Raza melakukan banyak hal yang dulu selalu saya lakukan.

Teman-teman sudah ada yang main pake kinetic sand? Ceritakan pengalamannya di sini ya!

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan