60 Tahun Astra

60 Tahun Astra

19 Januari 2016

Nasihat untuk Bahrun Naim



Bahrun Naim. Bahrun Naim. Bahrun Naim. Beberapa hari ini namamu sudah tercatat di dalam kepala saya dengan lekatnya. Tak ada alasan untuk melupakan nama yang disebut sebagai otak Bom Thamrin atau Bom Sarinah. Indah sekali sebenarnya namamu saat disebut. Pastinya nama ini sangat istimewa hingga orang tuamu memilihkan nama ini untukmu.

Bahrun, sudah seberapa banyak orang yang kali akhiri hidupnya untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan? Walaupun saya sendiri bingung apa sebenarnya yang kalian inginkan di dunia ini. Apa yang kalian inginkan sampai kalian rela menghabisi nyawa orang? Apakah kematian adalah jawaban yang tepat untuk mereka? Siapa pun orang yang telah kalian bunuh itu?

Mengapa kalian tidak pergi ke Palestina dan menghancurkan zionis yang masih bercokol di sana? Menghabisi satu demi satu anak-anak Palestina? Mengapa kalian tidak menyelamatkan warga Suriah? Kalian punya kekuatan untuk membunuh kan?

Saudara-saudara kita, yang menderita banyak sekali di dunia ini, mengapa harus membuat teror? Apakah dengan melakukan hal yang seperti itu kalian akan terlihat lebih baik di sisi Tuhan? Tuhan yang mana? Tuhan yang mana yang membiarkan umat-Nya melakukan tindakan anarkis seperti itu? Apakah kalian sudah tak punya cinta, Bahrun Naim?

Sudah hilangkah perikemanusiaan di hati kalian? Tidakkah kalian merasakan perihnya hati kehilangan orang yang kita cintai secara tiba-tiba karena ada yang melakukan bom bunuh diri? Hati ibu yang telah melahirkan anak yang dikandungnya berbulan-bulan. Apakah kamu tak punya ibu, Bahrun Naim?

Bahrun Naim, kehidupan dunia ini hanya sementara. Bukan kekal abadi. Tak perlu repot membuat 'kiamat' di bumi ini. Tuhan sudah punya jadwal untuk menghancurkannya. Tak perlu menunggu campur tangan dari tangan-tangan kotor kita.

Apabila kalian merasa apa yang telah kalian lakukan adalah jihad yang sebenarnya, bagaimana dengan suami yang berjuang menghidupi anak istrinya dengan cara yang halal? Apakah itu bukan jihad? Bagaimana dengan orang-orang yang memberikan manfaat buat banyak orang, apakah mereka bukan berjihad? Apakah jihad itu harus melakukan pembunuhan terhadap orang lain?

Bahrun Naim, apa sih agamamu sampai kamu menjadi mesin pembunuh? Padahal saat melihat wajah teduhmu dihiasi kacamata indah itu tak akan ada satu orang pun yang akan mengira kamu menjadi otak dibalik serangan Bom Sarinah tersebut. Apakah memang kamu otaknya? Atau orang lain?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers