60 Tahun Astra

60 Tahun Astra

14 Januari 2016

Masihkah Kita Melabeli Anak-Anak Kita?

Perjalanan kehidupan akan mempertemukan kita akan banyak hal. Apalagi sekarang saya sudah menjadi orang tua. Harus belajar mengenai banyak hal. Terutama mengenai kesabaran. Satu hal yang tidak ingin saya lakukan, membuat anak-anak tertekan.

Tak terbayangkan saya berada di rumah yang semuanya menyalahkan saya. Orang dewasa yang mendikte. Tegas berbeda dengan keras. Orang tua selalu merasa mereka paling benar. Mereka paling tahu. Saya pernah menjadi anak-anak. Namun saya cukup beruntung tidak begiti banyak tekanan yang harus saya hadapi. Terutama Umak dan Abah yang tak banyak menuntut dan selalu membiarkan saya belajar sendiri.

Padahal saya bukan belajar, saya hanya menulis cerita. Meneruskan hobi saya.

Saya mengerti perasaan Garda, sebut saja namanya demikian. Dia suka sekali menggambar, bermain sepeda dan layang-layang. Dia sekolah saat usianya masih terlalu muda. Belum genap 11 tahun dia sudah duduk dibangku kelas 6 SD.

Apakah salah menyekolahkan anak terlalu muda? Kalau dia memang mau dan tidak terpaksa sah-sah aja kali ya? Saya bukan ahli di bidang ini sih.

Dia sangat rajin belajar karena ada jadwal belajar malam di rumahnya kecuali malam Minggu. Kadang saya kasihan dengan anak jam sekarang. Sekolah pagi, pulang hampir sore. Malam belajar lagi. Kalau anaknya suka sih nggak apa ya. Namun melihat Garda yang didikte dan dilabeli macam-macam saya jadi stress menghadapinya.

Orang tua, saya juga sudah menjadi orang tua, semestinya tak banyak menuntut. Saya bahagia dengan semua pencapaian Raza dan tidak suka melabelinya dengan macam-macam label yang jelek.

Anak itu sudah punya labelnya sejak lahir. Jangan mengubah labelnya karena perilaku yang dia perlihatkan.

Garda sering dibilang, kamu lemah di pelajaran ini, kamu begini, kamu itu begitu. Tak ada celah untuk dia mengelak. Dia lama-lama akan meyakini bahwa dirinya buruk dengan semua label yang diberikan orang tuanya. Hati saya sakit mendengar dikte untuknya.

Raza juga sering dilabeli orang di sekitarnya dengan label, nakal. Karena dia nggak bisa duduk diam. Dia selalu bergerak kesana-kemari. Saya kesal. Nanti akan saya berikan dia semua label yang baik agar dia tahu dia tidak seperti yang orang katakan.

Ranking di sekolah juga label yang cukup mengganggu. Kapan ya semua sekolah di Indonesia nggak menggunakan label?

1 komentar:

  1. betul ya, harusnya dibersi semangat. Aku sih lebih mengarahkan ke arah kemampuan anak . jadi saat aank bungsuku masuk IPS aku sih biasa saja walau banyak orang kok masuk ips sih

    BalasHapus

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers