8 November 2015

Lazada Indonesia Tempat Beli Handphone yang Aman




Beli gadget sekarang ini sudah segampang beli jilbab atau pakaian ya. Tinggal pencet beberapa tombol dan bisa langsung melakukan pembayaran terus menunggu barang datang. Waktu facebook awal booming, membeli handphone secara online sangat tidak disarankan, sebab banyak yang menawarkan handphone dengan harga miring banget tapi ternyata yang nawarin Si Tuti alias tukang tipu.

Temen saya pernah tuh ketipu beli handphone di sebuah akun facebook. Tentunya banyak orang nggak mengira bakalan tertipu, kalau sejak awal sudah waspada tentunya nggak akan mudah buat ditipu. Harga yang mereka tawarkan memang sangat menggiurkan. Diembel-embel mendapatkan diskon sekian persen tentunya sangat sayang untuk dilewatkan. Celah yang dimanfaatkan oleh banyak penipu ini untuk beraksi. Setelah uang dikirim mereka pun hilang dan mencari korban yang baru.

Alhamdulillah saya sendiri suka waspada saat melihat harga handphone yang dikasih diskon. Soalnya harga handphone tuh antara satu penjual dan penjual lainnya nggak bakalan jauh bedanya. Makanya saya mendingan belinya agak mahal 100-200ribu tapi aman. Nah gimana kalau nengok diskonnya di Lazada Indonesia?

Ini sih tempat yang aman buat belanja. Nggak bakalan ada yang kabur saat kita habis transfer sejumlah uang. Cocok banget buat kamu yang pengen beli gadget dengan harga diskon. Iya lho di Lazada banyak handphone yang ada diskonannya. Lumayan hemat nih buat yang suka gonta-ganti gadget. Suami saya pasti suka nih. Soalnya beberapa waktu lalu androidnya rusak dan pengen ganti.

Mendingan saya pesen di Lazada diem-diem, jangan sampai dia tahu, terus belinya pake nama dia. Begitu barang datang pasti dia kaget ada yang kirim handphone buat dia. Saya sih mau belanjanya nunggu flashsale nanti. Ada smartphone yang mau dateng nih temen-temen. Masih ditandai dengan coming soon. Udah kayak film aja ya ada coming soonnya. Jangan sampai kehabisan ya buat penggemar smartphone RedMi. Suami bakalan suka kayaknya sama smartphone yang ini. Udah nggak sabar deh...

Deadline Deadline di Dinding


Di kamar saya sekarang banyak sekali tempelan kertas yang isinya adalah deadline dan juga jadwal pekerjaan yang harus saya selesaikan. Mirip dengan wallpaper abstrak tapi nggak jelas mau dibawa ke mana arahnya. Sehingga saya bakalan lebih suka orang nggak masuk ke sini dan melihat semua tempelan tersebut. Tapi ya hidup memang penuh dengan tanggung jawab yang harus diselesaikan. Apalagi saya sudah banyak sekali mengabaikan blog ini dan membuat beberapa postingan tertunda. Harusnya saya bisa menyelesaikan lebih banyak. Nggak aneh kemudian pengunjungnya menurun jauh sekali dibandingkan dulu.

Saya ingat betul dulu, tepatnya tahun 2013, blog ini bisa mendapatkan pengunjung 1.000-2.000/hari. Bahkan pernah lebih dari itu. Itu karena saya konsisten sekali mengisinya. Terus saya juga belum menikah. Belum punya anak juga tentunya. Tinggal di kantor. Sehingga saya punya banyak sekali waktu yang bisa dihabiskan hanya untuk menulis. Dulu saya sampai heran ada orang yang tak bisa mengisi blognya setiap hari. Sekarang saya mengalaminya. Walaupun bedanya adalah saya akan menulis lebih banyak besoknya dan mengisi kekosongan itu dengan tulisan yang kelebihan saya buat.

Menikah bukan alasan saya sih sebenarnya. Memang setelah menikah saya jadi kurang bisa mengatur waktu lebih baik. Itu sebabnya saya membuat banyak sekali tempelan di kamar yang disebut sebagai wallpaper oleh keponakan suami saya. Kalau nggak ditempel seperti itu ya bakalan nggak ingat sama apa yang harus dilakukan. Lebih suka berbaring dan tertidur di samping anak lelaki saya yang semakin membesar.

Apa yang akan terjadi ya kalau dia sudah bisa bicara dan usianya sudah setahunan. Dia bisa saja ikut duduk bersama saya di depan PC dan memperhatikan apa yang saya kerjakan. Ah sudah tak sabar menunggunya lebih besar dan mengajaknya menulis bersama. Setidaknya saya akan punya seorang asisten lagi.

Deadline begitu banyak yang harus diselesaikan. Namun kalau saya tidak buru-buru menulisnya satu demi satu tak akan ada yang benar-benar selesai. Seperti novel-novel yang selama ini hanya ada dalam kepala saya. Ah saya kurang produktif buat bagian itu sekarang. Padahal dulu menerbitkan banyak novel selalu menjadi impian saya yang saya jaga baik-baik. Saat SMA dulu bahkan saya punya buku tulis tebal yang isinya cerita-cerita imajinasi saya.

Imajinasi yang berbeda jauh dengan teman-teman saya sehingga saya tak punya banyak teman di sekolah. Hanya beberapa teman baik yang sampai sekarang masih berhubungan lewat sosial media atau lewat telepon.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design