17 April 2015

Akankah Saya Jadi Ibu yang Baik?


Apakah pertanyaan seperti ini sering muncul di kepala kita sebagai seorang ibu hamil? Saya tidak tahu apakah banyak perempuan memikirkan pertanyaan yang sama. Saya sendiri sebelum hamil sudah memikirkannya berkali-kali. Apakah saya akan menjadi ibu yang baik untuk anak saya nantinya? Apakah saya akan bisa mendidiknya menjadi anak yang baik pula? Apabila jawabannya tidak, saya khawatir sekali dengan cara saya mendidik anak saya nantinya.

Itu satu dari banyak alasan saya harus merencanakan dengan baik apa yang harus saya persiapkan sebelum menjadi seorang ibu. Namun yang saya lihat kebanyakan perempuan di dunia ini lebih khawatir tidak bisa cepat hamil dibandingkan tidak bisa menjadi ibu yang baik. Rata-rata pasangan di Indonesia tujuan menikahnya adalah cepat-cepat punya anak. Kalau perlu cepat-cepat memberikannya adik. Apakah cepat punya anak sudah menjadi jaminan bahwa kita bisa menjadi orang tua yang terbaik buat mereka? Bagaimana kalau ternyata kita tidak benar-benar bisa mempersiapkan masa depannya dalam waktu sesingkat itu?

Bagaimana jika kita tidak mampu menjadi ibu yang baik di awal pernikahan?

Rasanya....


Rasanya 24 jam itu kurang buat sehari-hari. Saya tidur siang saja 1-2 jam sehari rasanya masih kurang. Terbangun karena sudah mandi keringat. Panas sekali tubuh saya semakin mendekati lahiran ini. Belum lagi jadwal kuliah yang lumayan padat. Berangkat pagi pulangnya siang. Langsung makan siang begitu tiba di rumah. Kemudian tidur siang deh beberapa jam. Bangun-bangun biasanya sudah sore. Padahal masih mengantuk.

Semakin berat rasanya. Apalagi tidur malam agak susah. Udah gitu kurang nyenyak pula. Bukannya pengen ngeluh sih, tapi inilah yang saya rasakan beberapa bulan terakhir ini. Bulan depan siap-siap menghadapi kemungkinan lahiran sebelum atau setelah ujian tengah semester. Harapannya sih ujiannya kelar dulu 10 hari baru lahiran. Kapan pun lahirannya semoga bayinya sehat dan saya mampu mengeluarkannya dengan normal. Nggak kebayang harus operasi di bagian perut dan memakan waktu yang lebih lama untuk masa penyembuhannya.

Rasanya saya rindu ingin pulang kampung. Ingin ketemu teman-teman lama. Menyusuri jalanan yang dulu sering saya lewati setiap berangkat sekolah. Kangen dengan kantin dan makanan yang suka saya beli saat istirahat. Rindu semua itu. Ingin mengenangnya lagi bersama teman-teman lama yang masih berada di sana. Apa kabar mereka?

Banyak sekali hal yang ingin saya lakukan. Kemudian terhalang oleh satu orang yang ada di sana. Semuanya harus diurungkan dan hanya bisa dipendam dalam-dalam. 

Absen Puasa


Tahun ini saya benar-benar tak bisa berpuasa. Mengingat saya akan menyusui bayi yang akan segera saya lahirkan dalam hitungan minggu. Mudah-mudahan sih tidak bentrok dengan jadwal saya ujian nanti. Sehingga saya tetap bisa mengikuti ujian tengah semester, kemudian cuti sebulan, baru langsung ujian akhir semester. Akhirnya sebentar lagi saya akan menjadi seorang ibu seutuhnya. Perut yang semakin membuncit ini memang membuat saya kesulitan bergerak dan bernapas tapi mengingat ada seseorang yang berasal dari darah daging saya dan suami sedang tumbuh, itu terus menguatkan saya.

Sebulan penuh nanti saya akan absen puasa dan tetap makan seperti biasa demi menyusui anak saya ini. Saya sendiri dilahirkan beberapa hari setelah lebaran. Jadi saya rasa ibu saya masih dapat menjalankan puasa. Beda dengan saya yang akan melahirkan sebelum bulan puasa. Sayang sih sebenarnya tidak bisa berpuasa. Namun memang sudah harus seperti itu ya. Mau nggak mau saya harus merelakan sebulan penuh ini tanpa melaksanakan kewajiban yang satu itu.

Bagian menyenangkannya sih saya tetap bisa makan makanan untuk buka puasa bersama keluarga suami saya. Hehehe...
 

Kunci Keberhasilan Sebuah Bisnis?



Pertanyaan ini sebenarnya sudah terjawab saat saya masih bekerja di sebuah warung kelontong di kampung saya tercinta. Ini adalah pesan bos saya yang saya ingat sampai sekarang. Bahwa dalam berbisnis harus menerapkan kejujuran. Apakah kita masih ingat mengenai sekali lancung diujian, seumur hidup orang tak akan percaya. Saya sendiri juga akan sulit percaya pada orang yang sudah pernah satu kali menipu saya. Tak ada orang yang mau tertipu dua kali bukan?

Walaupun banyak faktor lain yang bisa menunjang sebuah bisnis agar berkembang dan berhasil memang faktor kejujuran adalah hal yang paling tak bisa dilepaskan. Berapa banyak orang yang melakukan ketidakjujuran dalam bisnis di dunia ini? Banyak. Coba lihat di televisi, reportase investigasi tu biasa menayangkan tentang ketidakjujuran orang dalam berdagang. Buruknya lagi, ketidakjujurannya tidak hanya merugikan secara materi tapi bisa saja merenggut nyawa orang.

Bisnis yang dibangun dengan ketidakjujuran dapat dipastikan akan kolaps dan sulit untuk bangkit lagi. Satu kali saja kita ketahuan melakukan tindakan yang curang, orang yang sudah tahu pasti akan berpikir dua kali untuk berbisnis dengan kita.
 
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design