6 April 2015

Mari Mendongeng!

“If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.”― Albert Einstein

Mendongengi Janin


Sepertinya sudah waktunya untuk membacakan dongeng kepada bayi yang saya kandung. Hitungan minggu dia sudah akan lahir ke dunia ini. Rencananya akan terus mendongenginya sampai dia cukup besar nantinya. Selain itu saya juga ingin memperbaiki pronounce bahasa Inggris saya yang kadang masih suka keseleo. Jadi saya mengunduh beberapa ebook fairy tales dalam bahasa Inggris. Sekali dayung dua tiga pulau terlampau. Sekali baca cerita, tidak hanya mendongengi sang bayi, saya juga ikut mendapatkan manfaat dengan membacakannya dengan suara.

Ah, dulu saya tak membayangkan akan melakukan ini. Menikah saja rasanya bagai mimpi. Sebab beberapa kali gagal dalam bidang percintaan membuat saya berpikir ulang mengenai kehidupan menjadi seorang istri. Pernah terbersit, jangan-jangan memang saya tidak akan pernah menikah. Apalagi sampai membayangkan akan hamil dan punya anak. Sampai akan mendongeng seperti ini segala. Mimpi yang menjadi kenyataan.

Saya jadi ingat betapa senangnya saya membaca buku cerita baru yang dibawakan Umak dari perpustakaan sekolahnya. Dulu Umak memang selalu kebagian tugas merawat perpustakaan sekolah dan dampaknya adalah setiap ada buku baru yang datang, saya adalah orang yang paling berbahagia di dunia ini. Buku menjadi sesuatu yang sangat mewah sewaktu saya kecil. Potongan koran yang digunakan untuk membungkus belanjaan saja suka saya baca. Apalagi buku cerita dongeng yang masih bau harum percetakan.

Beda ya dengan sekarang. Kalau sekarang saya tinggal baca online atau bisa unduh dan mencetaknya sendiri. Jauh lebih terjangkau sih jadinya. Tapi sensasi yang saya rasakan dulunya jadi beda dengan sekarang. Bagaimana dengan anak saya nantinya ya?
 

Blood Moon dan Tradisi Mandi di Atas Lesung


Beberapa waktu yang lalu kita tentunya sudah menyaksikan fenomena alam yang menunjukkan kebesaran Sang Pencipta semesta alam ini. Bagaimana rupa bulan yang biasanya putih itu menjadi merah. Sampai disebut sebagai blood moon. Seakan-akan sedang melihat bulan di film aja ya? Sebagai perempuan hamil saya mau tak mau harus mengikuti tradisi mandi di atas lesung seperti kebanyakan perempuan lainnya.

Ini juga terjadi pada Umak saya sewaktu mengandung saya sekitar 8 bulan. Sama ceritanya dengan yang saya alami sekarang. Mengandung hampir 8 bulan dan terjadi gerhana pula. Menurut tradisi masyarakat yang masih meyakini soal ini adalah ketika gerhana perempuan yang sedang mengandung harus dimandikan di atas lesung supaya anaknya tidak terkena 'babak'. Babak (dibaca baba') adalah tanda lahir yang agak gelap dibandingkan warna asli kulit kita.

Saya sendiri punya tanda lahir seperti itu di bagian perut. Orang khawatirnya jika tidak dimandikan di atas lesung, babak itu akan muncul di bagian wajah. Sehingga cukup mengganggu penampilan seseorang. Sebenarnya sih saya tidak begitu percaya soal ini. Apa hubungannya gerhana dengan kandungan seseorang. Tapi karena saya malas berdebat ya sudahlah saya ikuti saja prosesinya dan manut saja saat dimandikan sambil dibacakan doa. Anggap aja ibu mertua sedang mendoakan yang baik.

Cuma ya itu masalahnya, saya dimandikan dengan air hujan dari tempayan di dekat saya duduk di atas lesung. Walaupun saya sudah buru-buru mandi keramas dengan air ledeng tapi sampai hari ini saya merasa agak tidak enak badan. Ya sudahlah...

Bawang Dayak


Manfaat bawang dayak ternyata banyak sekali. Tinggal googling dan banyak orang yang menyajikannya di blog mereka. Saya tahu sih bawang dayak banyak manfaatnya. Adik perempuan saya biasanya suka merebus bawang tersebut dan meminum airnya. Di Pontianak sendiri saya bisa menemukannya dengan mudah di Pasar Flamboyan. Itu sebabnya beberapa kali saya menerima pesanan bawang dayak ini dari teman-teman yang saya kenal melalui dunia maya.

Sebenarnya sih niatnya nggak buat menambah barang dagangan. Cuma membantu teman-teman yang membutuhkan bawang dayak. Ternyata di luar Kalimantan Barat banyak juga yang memerlukan atau mencari. Buat yang ingin membeli bawang dayak sebaiknya memang membeli yang masih segar sehingga bisa dijadikan bibit lagi. Tinggal tanam sebagian dan sisanya buat dikonsumsi. Saat dibutuhkan tak perlu lagi membelinya di Pontianak.

Saya sendiri juga berencana untuk mengembangbiakkan tanaman yang satu ini di halaman belakang rumah nantinya. Sementara ini sih masih belum memungkinkan. Tidak hanya bawang dayak sih yang ingin saya tanam. Banyak tanaman lainnya yang saya pikir sebaiknya saya tanam di halaman belakang. Sayuran dan buah-buahan tentunya. Supaya nantinya bisa mengonsumsi makanan yang lebih organik dan bebas pestisida.

Kadang agak ngeri juga membayangkan sayuran dan buah-buahan yang saya makan. Entah mengandung pestisida atau tidak saya tidak tahu. Pengennya sehat dengan makan sayuran atau buah-buahan tapi kalau mengandung pestisida malah akan mendatangkan penyakit di tubuh kita kan ya?

Semoga bisa segera belajar membuat halaman belakang rumah menjadi kebun hidroponik seperti yang selama ini saya impikan.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design