7 Maret 2015

Cerbung atau Cerpen?

Kepikiran lagi buat bikin cerbung atau setidaknya cerpen di blog. Entah bakalan ada yang ngikutin atau enggak. Entah saya masih bisa menulis kisah cinta atau enggak. Mana kemampuan bahasa saya kayaknya belum banyak berkembang. Maklum saya kebanyakan baca komik dan tak banyak baca novel dengan bahasa yang beragam. Tahulah bahasa komik seperti apa kan? Tidak nyastra istilahnya. Walaupun demikian saya sangat menikmati gambar-gambar yang ada di dalamnya. Apalagi sekarang banyak sekali komik yang saya temukan menarik di Toko Buku 88 Pontianak.

Iya kalau buat komik saya lebih suka menyewa saja dibandingkan beli dan mengoleksi. Mengingat saya juga orangnya ceroboh dalam menyimpan barang. Dibandingkan harus kebingungan menyimpan komik dengan baik sih mendingan sewa aja. Sudah selesai tinggal kembalikan. Lomba-lomba kayaknya banyak  juga yang saya lewatkan karena kehamilan ini membuat banyak hal menjadi tak begitu penting. Saya lebih banyak tidur atau baca-baca tulisan tentang kehamilan. Untungnya sih kehamilan ini tak banyak masalahnya. Saya hanya kesulitan berjalan sih dibandingkan mengalami masalah yang lain. Susah jalan kayaknya jadi masalah banyak orang deh ya. Apalagi kalau hamilnya sudah masuk 8 bulan.

Terakhir saya menulis cerbung itu kayaknya belum selesai ya. Padahal saya bertekad ingin menyelesaikannya. Entah gara-gara nggak ada yang tanya jadi kurang semangat atau bawaan hamil jadi bingung mau menuliskan lanjutan yang seperti apa. Apalagi cerbungnya kelamaan dianggurin. Ah padahal dulu waktu masih menulis di buku yang tebalnya 500 lembar, saya selalu semangat menulis cerita sepanjang mungkin. Sampai terbayang-bayang di dalam kepala ini bagaimana jalan ceritanya terbentang.

Sekarang kayaknya mengambang ya, pengen bikin cerbung tapi yang belum selesai bagaimana? Apa kita pending dulu? Atau sebaiknya cerpen yang langsung selesai aja? 500 kata gitu? Hahaha... malah jadi galau. Ini pasti gara-gara belum dapat rumah buat buka kost-kostan. 

Sudah Maret!


Sebelum postingan di blog ini genap 4.000 tulisan, saya sudah mulai mengira-ngira kapan tulisannya akan mencapai angka tersebut? Ternyata beberapa waktu yang lalu saya tidak sadar tulisannya malah sudah lebih dari 4.000 postingannya. Alhamdulillah diberikan kesehatan untuk membuat sedemikian banyak tulisan dalam waktu kurang dari 4 tahun blog ini. Berarti dalam setahun saya bisa menghasilkan lebih dari 1.000 tulisan dong ya!

Akhirnya saya berencana untuk meningkatkan lagi jumlah tulisan di blog ini seperti tahun 2013 lalu. Membuat jumlah tulisan sesuai urutan bulan. Minimal 1 post untuk Januari, 2 post Februari, 3 post Maret. Sekarang sudah bulan Maret. Itu artinya saya harus menulis minimal 3 postingan dalam sehari. Masih keteteran sih dibandingkan saat sendiri dulu. Yaiyalah. Apalagi sekarang kesibukan saya bertambah. Menjadi istri, calon ibu, mahasiswa ABA, dan pedagang online. Tambah lagi dengan ngeblog yang ditarget seperti ini. Dapat dibayangkan betapa sedikitnya waktu untuk istirahat. Nggak juga sih hahaha... bagian itu agak lebay. Saya masih cukup istirahat kok. Apalagi sekarang saat hamil hampir semua pekerjaan rumah digantikan oleh suami. Sangat terbantulah jadinya.

Nah buat teman-teman yang mampir ke blog ini jangan heran jika tiba-tiba muncul banyak sekali tulisan dalam sehari untuk mengisi hari-hari yang kosong di dalam blog. Kemarin-kemarin saya merasa sangat nyaman menulis menggunakan android. Tapi tentu saja kecepatan menulis menggunakan smartphone dengan keyboard PC itu sangat berbeda. Apalagi layar sentuhnya membuat saya suka typo. Kelebihan layar sentuh sih saya tidak perlu khawatir jemari saya sakit karena terlalu banyak menekan tutsnya. Sebab saya suka lupa dengan jari saya sendiri kalau sudah mengetik menggunakan keyboard. Pernah beberapa kali saya membuat jari saya agak sakit bagian ujungnya gara-gara kebanyakan ngetik dengan keras.

Padahal mengetik seharusnya santai saja. Terlalu bersemangat juga bisa membuat kita kesulitan sendiri.

Jangan bosan-bosan ya membaca tulisan saya. Sebab Desember 2015 nanti dapat dipastikan saya menulis 12 postingan dalam sehari. 

Pilih Kerja atau di Rumah?



Pertanyaan yang kayaknya banyak sekali muncul di kepala ibu rumah tangga yang bingung dengan pilihan yang bisa dia ambil. kadang suka lewat status seperti itu di time line sosial media yang saya miliki. Sebenarnya sekarang ini, kemajuan teknologi sudah sangat mendukung setiap ibu rumah tangga untuk tidak keluar dari rumah tapi tetap bekerja. Bahkan banyak juga pasangan suami istri yang sama-sama bekerja dari rumah. Kalau memang bisa memilih keduanya sekaligus mengapa kita harus mengorbankan satu di antaranya bukan? Toh yang paling penting masih bisa menghasilkan uang dan menghidupi keluaraga.

Selama itu halal dan bisa menjadi sumber yang cocok tak ada salahnya kok untuk memilih bekerja dari rumah. Kecuali rasanya tidak enak aja ditanyakan sama orang-orang pas ketemu. Kerja di mana sekarang? Ada orang yang tidak percaya diri untuk menjawab jika sekarang dia bekerja dari rumah. Saya sendiri sih malah bangga bisa bekerja dari rumah. Sebab itu artinya saya akan selalu ada untuk anak dan suami saya. Walaupun akan ada pendapat juga yang mengatakan, sayang banget sekolah tinggi nggak ngelamar jadi PNS atau pegawai kantoran yang bergengsi. Itu saat kita terlalu banyak mendengarkan pendapat orang lain.

Coba deh tanya sama diri sendiri. Kita cari uang buat siapa? Kita punya tujuan apa di dalam hidup ini? Siapa sih orang yang paling penting bagi kita? Kalau rasanya pendapat orang bisa mengganggu pilihan hidup kita ngapain didengerin. Toh ini hidup kita sendiri. Nikmati aja. Pada akhirnya yang paling penting adalah hasil dari pekerjaan kita.


Buat teman-teman facebook atau twitter saya yang suka mengeluh soal pilih kerja atau di rumah, coba deh cari-cari cara supaya tetap bisa bekerja dari rumah. Dibandingkan harus menghilangkan satu di antaranya dan membuat pilihan seperti itu cukup sulit. Apalagi buat ibu rumah tangga yang sudah memiliki anak. Akan tidak menyenangkan rasanya seperti itu. Ingin keluar dari rumah karena merasa ada pekerjaan terbaik yang sedang menunggu di luar sana. Apalagi kadang banyak ibu rumah tangga yang merasa penghasilan suaminya masih kurang untuk kebutuhan rumah tangga. Tapi melihat wajah anak-anak yang ada di rumah menjadi tidak tega juga meninggalkannya.

Buat yang mau mencoba berbisnis dari rumah, saya punya kok solusinya. Modalnya paling penting adalah pikiran positif dan kemauan. Saya sudah menjalankan beberapa bisnis dari rumah dan memang butuh waktu untuk membuat semuanya bergerak. Mau berbisnis seperti saya? Yuk gabung di sini. Gratis kok. 
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design