23 Februari 2015

Butterfly In My Tummy (21)

Acara nujuh bulanannya akhirnya kelar. Semua prosesi adat sudah dilewati. Makanan juga sudah dibagikan ke banyak orang yang datang. Alhamdulillah. Tinggal menunggu kelahiran jabang bayi ini. Perut sudah sangat buncit. Walaupun sebenarnya saya sudah melihat perut orang lain yang jauh lebih buncit dan mereka jauh lebih sulit untuk berjalan dibandingkan saya.

Satu hal yang paling saya ingat sewaktu memeriksa bayi ini beberapa bulan lalu adalah saat bidan memperdengarkan bunyi detak jantungnya. Detaknya sedemikian nyaring seakan ingin menyatakan bahwa dia baik-baik saja setelah jalan-jalan ke Pulau Temajok dan Kepulauan Seribu. Bahwa dia sangat kuat. Sangat ingin sehat dan bersama kedua orang tuanya. Ingin meneteskan air mata rasanya waktu saya bisa mendengar suara detaknya.

Entah bagaimana terharunya saya nanti ketika melihat wajahnya untuk pertama kali. Ada bagian dari diri saya di dalam dirinya. Melihat anak orang lain bersama ibunya saja sudah membuat saya sangat senang. Membayangkan anak saya akan melakukan hal selucu anak orang. Mendapatkan suapan dari tangan anak yang saya besarkan. Alangkah indahnya masa-masa bersama anak ini nantinya.

Saya melihat seorang anak perempuan menyuapi agar-agar untuk ibunya. Mengharukan. Dia bertindak seakan-akan dia lebih dewasa dari ibunya. Ibunya sendiri terlihat agak malu disuapi begitu. Tetapi saya sendiri memperhatikan dengan iri. Berharap sayalah nantinya yang akan disuapi seperti itu oleh anak saya. Anak yang sekarang gerakannya semakin lincah.

Saya tahu ruangan yang dia tempati sekarang sangat sempit. Dia menerjang ke sana ke mari seakan ingin membuat perut saya lebih besar. Sesuatu yang agak mustahil untuk terjadi kalau melihat bentuknya sekarang ini. Berat badan saya tak banyak naik. Jadi kemungkinan perut ini untuk membesar lebih dari ini akan kecil. Apalagi bidan bilang naiknya 8kg-12kg sudah cukup.

Itu artinya saya tak perlu naik lebih banyak dari ini. Walaupun beberapa ibu hamil bisa mengalami kenaikan yang berlebihan sampai 20kg totalnya. Paling banyak terjadi ketika usia kandungan 8-9bulan. Saya sendiri sudah mengandung 32 minggu. Belasan minggu tanpa sadar.

Tadi saya mencoba membuat rekaman video perut saya yang bergerak-gerak. Sudah ada gerakan yang terekam. Besok akan merekam lagi lebih banyak. Supaya lebih banyak kenangan yang bisa kami nikmati bersama saat bayi ini beranjak besar.

Sekarang ini saya hanya bisa menikmati tendangannya setiap hari. Paling banyak di bagian kanan perut saya. Jenis kelaminnya jangan ditanya. Soalnya masih belum kelihatan juga saat di-USG. Saya lebih senang jenis kelaminnya menjadi kejutan sih sebenarnya. Tapi banyak sekali yang bertanya. Agak menyebalkan memang. Jadinya saya merasa harus USG lagi dan melihat dengan benar jenis kelaminnya. Semoga tidak salah lihat sih.

Maunya cewek apa cowok? Ini pertanyaan mengganggu lainnya. Cewek atau cowok yang paling penting sehat bayinya.

Mie Tiaw Apollo Rebus Bungkus!

Kalau teman-teman adalah orang dengan porsi makan yang besar sebenarnya satu porsi Mie Tiaw Apollo Rebus ukuran normal sudah cukup mengenyangkan. Belum cukup? Beli bungkus saja. Sebab porsi makan di tempat dan bawa pulang berbeda. Saya sendiri membeli satu bungkus saja sudah bisa untuk makan berdua dan kekenyangan. Padahal biasanya saya makan satu porsi sendiri di warungnya.

Memang porsi mie tiawnya berbeda dengan yang di warung kalau kita bawa pulang. Sepertinya ada bonus kalau beli bukan makan di tempat. Oiya beberapa waktu lalu semangkuk Mie Tiaw Rebus di Apollo masih 23.000IDR. Sekarang sudah naik, genap menjadi 25.000IDR. Harga bawa pulang dan makan di tempat sama aja sih. Tapi jangan harap bisa kebagian meja kosong menjelang malam. Mulai pukul 8 ke atas, meja terisi penuh. Susah sekali mendapatkan meja yang masih kosong.

Sebaiknya beli bawa pulang saja kalau sudah seperti itu. Menunggu tibanya meja kosong sangat sulit. Sebab nantinya menunggu pesanan pelanggan yang sedang menggunakan meja. Lalu menunggu mereka selesai makan. Urungkan niat untuk menunggu lebih lama. Apalagi biasanya pelayan sendiri sudah sangat kebingungan memenuhi pesanan yang makan di sana. Beda ceritanya saat kita berdiri di kasir dan memesan untuk dibawa pulang.Kita bisa langsung bicara dengan kokinya apa pesanan kita. Menunggu sambil memperhatikan tentunya akan lebih cepat dilayani dibandingkan memesan dengan pelayan dan menunggu di kursi.


Sekarang tentunya lagi pelanggan Mie Tiaw Apollo yang merayakan imlek di Pontianak akan menyempatkan diri untuk singgah dan menghilangkan kerinduan terhadap makanan yang satu ini. Sebab cita rasanya yang khas. Itu yang membuat warungnya sedemikian penuh tadi. Jadi harap maklum saja kalau sulit menemukan meja kosong di sana.
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design