17 Februari 2015

Butterfly In My Tummy (19)

Tak ingin jauh-jauh dari suami rasanya selama hamil ini. Untung suami kerjanya dagang jadi gampang. Apalagi kalau dia bolak-balik rumah beberapa kali dalam sehari. Bisa bertemu berkali-kali dan bisa makan siang bersama-sama. Rasanya kebersamaan adalah hal yang paling menyenangkan. Pernah sih berpisah beberapa hari saat saya harus ke Kepulauan Seribu bersama pemenang Tulis Nusantara 2013 yang lain. Kangen berat. Apalagi ternyata di sana susah sinyal. Hanya ada sinyal indosat.

Pengennya nempel terus sama suami. Apa pun keadaannya. Sekarang emosi juga nggak semeledak-meledak awal kehamilan. Bawaan sekarang rumahnya lebih nyaman kali ya? Suasananya lebih adem dan tenang dibanding rumah yang kami tempati sebelumnya. Untung tak perlu membesarkan anak di rumah yang sana.

Perut semakin membesar dan kaki kanan saya masih sulit diajak beraktivitas terlalu banyak. Padahal ibu hamil disarankan banyak jalan. Eh ini mau jalan ke dapur aja susahnya minta ampun. Belum lagi kalau harus jongkok terus berdiri. Dari baring ke berdiri aja nyeri sekali di pangkal paha. Apakah ada tulang yang bergeser di sana? Kemungkinan itu pasti ada. Soalnya ukuran jabang bayinya semakin besar dan sudah bergerak ke mana-mana.

Selera makan masih sangat baik. Apa saja saya lahap sampai habis. Sempat sih beberapa waktu lalu demam, batuk, pilek, dan tenggorokan sakit banget. Selera makan jadi sedikit berubah. Ada makanan yang diinginkan tapi bukan makanan yang ada di rumah. Untungnya sih semangkuk bubur pedas atau lontong sayur sudah sangat menggugah selera. Nggak susah dikasih makan sih orangnya.

Oiya, tidur malam juga sekarang tak sesulit biasanya. Biasanya saya harus menunggu sampai pagi baru terlelap. Paling awal dini hari. Itupun tidurnya biasanya tidak begitu nyenyak. Sekarang lumayan nyenyak. Jam 10-11 sudah terlelap. Itu jam yang sudah cukup awal buat saya selama kehamilan. Bangunnya juga tidak sesulit biasanya. Cuma ada masalah dengan kaki kanan. Itu saja.

Pergerakan bayinya yang biasanya membuat saya terbangun tengah malam lalu tidur lagi. Namun tendangannya tak begitu keras kok. Cukup lembut untuk sebuah tendangan. Tetapi cukup keras untuk membangunkan saya dari tidur yang nyenyak. Sebenarnya sih dia bergerak sepanjang waktu. Hanya ada waktu-waktu gerakannya sangat aktif, ada pula yang gerakan pelan saja.

Barangkali saya setelah diurut sama dukun beranak beberapa waktu lalu menjadi lebih gampang ngantuk dan tertidur. Tak ada salahnya datang lagi ke sana buat urut badan. Kangennya sih sama pijatan di Nakamura. Dari banyak tempat pijat, saya rasa itu tempat pijat yang membuat saya paling betah dipijat 2jam dan hasilnya sangat menyegarkan. Apalagi suasana tempatnya yang menenangkan.

Suatu hari ingin mengajak Uwan dan Umak ke sana. Merasakan enaknya dipijat ala Jepang di Nakamura. Pasti akan sangat menyenangkan buat mereka. Nanti kalau mereka sudah ada waktu buat ke Pontianak.

Ternyata Unggah Foto Eiffel Saat Bermandikan Cahaya Dilarang

Siapa sih yang tidak ingin pergi ke Paris lalu berfoto di bawah Menara Eiffel. Terutama saat malam hari. Lampu di menara eiffel sedemikian indahnya. Saya sendiri belum pernah ke Paris. Apalagi sampai berfoto di bawah menara tersebut. Ngomong-ngomong soal Menara Eiffel saya sendiri baru tahu bahwa mengunggah foto menara tersebut saat bermandikan cahaya dilarang. Wiiii untung tahunya sebelum berangkat ke sana. Entah kapan baru benar-benar akan ke sana. Soalnya kalau memang punya uang buat liburan ke luar negeri saya sendiri lebih memilih buat umroh saja.

Pelarangan pengunggahan foto Menara Eiffel saat bermandikan cahaya nggak main-main. Sebab akan ada denda yang harus dibayar oleh pelakunya. Beda dengan Menara Eiffel yang difoto saat siang hari tanpa cahaya indahnya. Sebab yang dilindungi hak cipta adalah lampu indahnya bukan menaranya. Ajaib ya? Beda dengan Tugu Monas yang boleh diunggah begitu saja. Mau siang, mau malam. Mau bercahaya karena lampu atau tidak sama saja. Tak pernah ada pelarangan semacam di Menara Eiffel.

Mengutip CNN Indonesia dikatakan bahwa:

Aksi lampu ini merupakan sebuah atraksi yang dibuat oleh Pierre Bideau di tahun 1985. Ahli listrik dan lampu ini menyinari menara Eiffel dengan siraman cahaya berwarna emas dan kerlip cahaya putih selama lima menit setiap jam-nya. Cahaya inilah yang dilarang untuk disebarkan si media sosial. 

Kalau memang teman-teman ada rencana buat ke Paris dan foto-foto di Menara Eiffel jangan sampai mengunggah foto yang memuat cahaya yang dilindungi hak cipta tersebut. Sebab akan menimbulkan masalah ke depannya. Walaupun tak semua pelaku bisa diproses tapi tentunya kita tak ingin terlibat masalah hukum dengan negara lain bukan?

Terasa romantis kali ya bisa berfoto di bawah cahaya Menara Eiffel bersama orang yang kita cintai. Namun jangan sampai keromantisan itu mengakibatkan masalah besar di kemudian hari. Hukum di negara luar berbeda dengan di Indonesia.

Banyak sekali foto Menara Eiffel dengan cahaya keemasannya yang bisa kita temukan di akun media sosial orang yang diunggah begitu saja. Tak bisa saya bayangkan jika nantinya foto itu ditemukan oleh pihak berwajib yang mengatur hak cipta cahaya di Menara Eiffel. Apa ya yang akan terjadi?
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design