11 Februari 2015

Butterfly In My Tummy (13)

Susah tidur selama kehamilan membuat saya sadar tentang banyak hal. Terutama tentang mudah tidurnya sang suami. Dia hanya butuh 2-5 menit berbaring dan langsung terlelap ke alam mimpi. Lengkap dengan dengkurannya. Padahal rasanya dia sudah banyak tidur siang. Setiap malam seperti itu. Mau dalam keadaan sehat atau sakit, saya iri betul dengan kemampuannya untuk gampang tidur. Terlepas dari dengkurannya yang kadang membuat saya teringat dengan bunyi mesin motor air menuju Jawai.

Sementara saya setiap malam akan menuju alam mimpi setelah berbaring berjam-jam dengan segala tendangan dari dalam perut. Namun setiap dia tidur lebih dulu saya senang sekali memperhatikan matanya yang tertutup rapat dalam keremangan cahaya. Membelai pipinya. Kemudian saya menyadari bahwa saya akan menua dengan laki-laki ini. Satu hal yang luput dari pikiran saya saat menerima lamaran pernikahannya.

Bagaimana bisa saya lupa bahwa kami akan menjadi nenek dan kakek bersama-sama. Membesarkan anak berdua. Menyaksikan rambut kami memutih dimakan waktu. Sama seperti Aki yang menua di sisi Uwan. Saya benar-benar lupa bagian itu. Ketika malam tiba dan saya masih belum bisa tidur baru saya menyadari kenyataan itu. Bahwa pernikahan bukan akhir dari sebuah cinta yang bahagia melainkan awal dari sebuah kehidupan yang sebenarnya.

Apakah saya menyesal menikahinya?

Saya sampai sekarang memikirkan itu berulang-ulang pun selalu bersyukur saya menikahi laki-laki ini. Laki-laki yang suka sekali nonton FTV tapi tak pernah mampu seromantis pemeran pria di dalam FTV tersebut. Laki-laki yang tak banyak bicara tentang dirinya. Kadang saya pikir saya masih tak mengenalinya dengan baik walaupun sudah bersama setiap hari. Bahkan sekarang bagian dari dirinya ada di dalam rahim saya.

Janin ini yang dia tunggu-tunggu. Meskipun dia tak pernah mengatakan ingin saya segera hamil, tapi sekarang saat melihat ekspresinya setiap kali tangannya mengusap perut saya untuk merasakan tendangan sang jabang bayi, saya tahu, dia sudah menunggu sekian lama. Dia sudah siap menjadi seorang ayah untuk anaknya. Anak yang mungkin akan setalkaktif ibunya atau sependiam ayahnya.

4 Alasan Gunakan Bloggeroid Buat Ngeblog di Android

Ngeblog di ponsel memang sekarang menjadi pilihan yang lebih memungkinkan. Saya agak tidak tahan duduk di depan komputer terlalu lama. Apalagi duduk di kursi atau di lantai juga sudah kurang nyaman. Beda dengan duduk di tempat tidur. Pantat saya rasanya mudah sekali kram. Makanya saya lebih banyak berbaring jika memang tak ada kegiatan. Entah sambil membaca atau menulis.

Untuk ngeblog juga dilakukan di atas tempat tidur. Sebelumnya saya memilih untuk menginstall aplikasi blogger for android yang memang dari blogger. Tapi beberapa waktu yang lalu sempat error dan force closed tiba-tiba. Akhirnya saya memilih untuk menginstall aplikasi yang lain dan di Play Store tersedia Bloggeroid. Banyak review yang bagus dan ternyata memang lebih menyenangkan menggunakan aplikasi Bloggeroid ini untuk ngeblog.

Beberapa alasan saya memilih Bloggeroid adalah sebagai berikut.
1. Aplikasinya stabil tidak pernah tiba-tiba tertutup atau ngehang.
2. Kita bisa mengatur letak foto yang kita inginkan di dalam postingan.
3. Jumlah foto yang bisa digunakan juga tak dibatasi satu seperti di beberapa aplikasi blogger.
4. Bisa share ke banyak Google+ dari satu aplikasi.

Walaupun kekurangannya yang saya temukan adalah bisa menyebabkan salah posting di blog. Karena saat akan menulis kita tidak bisa memilih blognya terlebih dahulu. Melainkan otomatis diatur ke blog terakhir yang kita isi tulisan. Jadi buat yang kurang teliti bisa saja langsung memilih 'publish' dan tidak menyadari blog yang diisi bukanlah blog yang ingin dia isi sebab 1 aplikasi ini akan menampilkan semua blog yang terhubung dengan akun google yang kita gunakan untuk log in. Intinya sih kita harus teliti saat akan publish. Untuk blogger mobile pemula, aplikasi ini tentunya sangat membantu. Apalagi kalau banyak blogger yang merasa kesulitan membagi waktu untuk menulis di blognya. Kalau aplikasinya sudah ada di ponsel atau smartphone tentunya tak ada lagi alasan untuk tidak update blog bukan?

Awal-awal mengetik di smartphone memang cukup mengganggu. Beberapa kali typo dan bisa frustasi kalau kita sedang buru-buru menulis. Gunakan smartphone dengan layar yang cukup lebar supaya tak membuat stress atau kesal menggunakannya untuk ngeblog. Buat saya sendiri paling penting menggunakan keyboard yang tepat di smartphone. Sudah beberapa tahun saya menggunakan keyboard dari Go Keyboard dan meninggalkan android keyboard bawaan dari Samsung. Dari banyak keyboard yang pernah saya install dan gunakan memang keyboard ini yang paling cocok dengan tingkat ketypoan saya. Masih suka typo tapi sedikit dan tentunya paling nyaman menurut saya. 😁
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design