7 Februari 2015

Butterfly In My Tummy (9)

Pelupa. Ini penyakit yang semakin menjadi-jadi yang saya derita selama kehamilan. Selain betapa susahnya tidur malam. Lalu balas dendamnya siang hari dengan tidur sepuasnya. Sekarang sih untungnya sedang libur kuliah. Jadi tak seberapa masalah. Tak kebayang nanti Maret kuliah sudah dimulai seperti biasa. Mudah-mudahan bisa tidur lebih awal dan bangun lebih pagi. Kemudian penyakit pelupanya tak bertambah parah. Soalnya semester dua harus lebih banyak yang diingat biar bahasa Inggrisnya lancar.


Paling parah sih pelupanya itu pas jadwal siaran. Saya benar-benar melupakan ada jadwal siaran hari itu. Padahal tubuh saya sepertinya ingat. Bangun lebih pagi. Mandi lebih awal. Tapi otaknya yang tak nyambung dengan jadwal. Jadinya saya bersantai saja di rumah tanpa bersiap-siap ke studio untuk siaran di Radio Volare.

Ngomong-ngomong soal Radio Volare, bentar lagi ulang tahun yang ke-42. Tepatnya bulan ini ulang tahunnya. Biasanya sih ada yang istimewa. Tapi belum tahu apa yang akan disiapkan teman-teman untuk ulang tahun Radio Volare. Soalnya saya sendiri sekarang malah sedang mempersiapkan diri untuk mengambil cuti beberapa bulan soalnya bulan depan kehamilan sudah masuk bulan ke-8.

Sudah saatnya untuk beristirahat lebih banyak supaya kehamilannya jadi lebih sehat dan fisik saya nggak terlalu lelah. Apalagi studio Radio Volare letaknya di lantai atas. Tentunya membahayakan turun naik tangga untuk ibu hamil seperti saya mengingat saya sering terpleset di tangga studio sebelumnya. Kemarin aja saya sedikit oleng di tangga tapi tak sampai jatuh sih.

Kaget sekali waktu itu. Padahal saya sudah pelan-pelan naiknya.

Semoga aja tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan sampai hari kelahiran itu tiba.

Butterfly In My Tummy (8)

Selain pertanyaan 'kapan hamil' atau 'sudah isi' ada lagi ternyata pertanyaan yang cukup mengganggu. Bagi saya sangat mengganggu sih ditanya soal jabang bayinya perempuan atau laki-laki. Orang anaknya belum lahir sudah pada nanyain. Masalahnya sampai hari ini dokter sendiri belum tahu jenis kelaminnya. Bagaimana saya harus menjawabnya?

Tapi memang banyak orang tidak merasa kurang ajar untuk menanyakan jenis kelaminnya. Saya jadi mikir, memangnya kalau perempuan atau laki-laki mengapa? Ada apa sih dengan orang-orang yang suka bertanya seperti itu? What's wrong with you people? Toh pada akhirnya yang akan mendidik dan membesarkannya adalah saya dan suami. Bukan orang lain. Apalagi orang yang sama sekali nggak ada hubungan darah.

Menurut saya aneh orang yang bisa mengeluarkan pertanyaan privasi buat orang lain. Kayak 'kapan wisuda', 'kapan nikah', dan termasuk 'kapan hamil'. Kayak nggak punya perasaan pada perasaan orang yang ditanya. Bagaimana kalau yang ditanya menjadi tidak senang dan tak tenang dibuatnya? Hanya gara-gara pertanyaan basa-basi nggak penting.

Makanya kadang saya suka malas bertemu dengan orang yang suka nanya-nanya nggak jelas. Saya sih tak suka basa-basi kayak gitu. Karena menurut saya lebih banyak basinya dibandingkan budi bahasanya. Percaya deh kamu nggak pernah nanya seperti itu aja akan ditanyain sama orang yang kurang kerjaan dengan model pertanyaan mengganggu. Apalagi kalau kamu hobi sekali kepo dengan hal-hal yang sebenarnya nggak memberikan pengaruh dalam hidupmu.

Masih suka bertanya dengan pertanyaan mengganggu?
 

Rohani Syawaliah Template by Ipietoon Cute Blog Design