16 Desember 2015

Menu Sarapan Pagi Terfavorit


A photo posted by Rohani Syawaliah (@honeylizious) on


Bukan tipikal orang yang terlalu memilih-milih makanan sih sebenarnya. Tapi memang ada menu favorit saya yang bisa saya makan setiap hari buat sarapan. Walaupun sekarang saya sarapannya beda tiap hari. Namun menu yang satu ini bisa jadi pilihan terakhir yang tak akan saya tolak kalau di tawarin. Kayak pagi ini, sebenarnya saya ingin makan bubur saya seperti yang sudah-sudah. Soalnya di dekat rumah sini ada bubur yang lumayan saya suka. Padahal niat awalnya bukan beli bubur lho.

Tadinya saya kepengen makan Apam Pulau Pinang yang dijual di Jalan Gajahmada. Sudah terkenal kelezatannya. Namun ternyata sebelum jam 9 mereka sudah kehabisan adonan dan langsung tutup deh. Emang sih biasanya jam 8 juga mereka sudah menjual habis kue mereka. Tahu Apam Pulau Pinang kan? Ada juga yang menyebutnya Kue Terang Bulan. Alias martabak manis kalau di Pontianak menyebutnya. Cuma saya beberapa kali lewat sudah lewat jam 8 mereka masih buka dan adonannya masih cukup banyak. Makanya saya pikir hari ini juga bakalan ada. Saya sudah membayangkan kacang dan srikaya di balik lipatan apam tersebut. Eh ternyata sudah habis lho.

Tawaran berikutnya adalah bubur. Okelah, saya nggak milih-milih banget sih soal makanan. Paling penting makanan tersebut bernutrisi. Makanan sehat yang bisa membuat saya bersemangat seharian. Eh ternyata buburnya juga habis. Ujung-ujungnya yang saya makan adalah lontong sayur. Saya suka sih lontong sayur. Favorit malahan. Tetapi bukan yang dijual di Pontianak. Saya suka lontong sayur asli Sambas yang ada tambahan mie kuning alias mie sanggul di dalam kuahnya. Belum lagi udangnya yang enak banget karena dimasak dengan kuah santan.

Saya rindu sekali dengan lontong sayur yang dijual di pasar tak jauh dari rumah Umak saya. Seandainya bisa pulang kampung dan makan lontong buatan Ibu Ibud setiap hari. Bakalan seneng banget deh. Apalagi sekarang di situ juga ada jual sate. Ibu Ibud memang pintar masak. Saya suka semua dagangannya di warung itu. Bahkan dulu saya setiap hari makan di situ. Sekarang? Sebulan sekali aja susah karena saya memang jarang pulang kampung. Apalagi sekarang sudah menikah. Semakin tak memungkinkan untuk pulang kampung dan sarapan di warungnya yang lebih dekat dengan pasar ikan sekarang.

Dibandingkan itu semua saya juga rindu sekali dengan nasi goreng buatan Uwan saya yang paling fenomenal itu. Nasi goreng kampung dengan ikan teri gorengnya. Pake sedikit terasi. Rindu sekali... rindu... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers