4 Desember 2015

Curhatan Umak-Umak


Saya merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini punya 'Umak' seperti ibu saya yang sekarang. Nggak pengen diganti dengan ibu yang lain karena ibu yang ini adalah yang terbaik buat saya. Walaupun dia punya banyak sekali perbedaan dengan ibu pada umumnya. Dia bukan tipikal ibu yang akan menelpon anaknya yang jauh darinya sesering mungkin, tapi dia selalu berusaha menjadi jalan keluar untuk setiap masalah anaknya. Orang tua memang selalu bisa mengorbankan apa saja demi anaknya. Asalkan anaknya bahagia dan senang hidupnya. Seisi dunia pun rela dia berikan jika memang mampu dia persembahkan.

Hari ini dia bercerita panjang mengenai tanaman yang dia rawat di sekolah tempat dia mengajar. Harus saya akui ibu saya ini memang orang yang sangat suka sekali membudidayakan bibit tanaman. Entah itu cabai atau sejenis sayuran. Sampai-sampai sering sekali dia memanennya di sekolah. Murid-muridnya juga ikut membantu bahkan Umak saya bilang sampai ada murid yang mentraktirnya minum es karena melihatnya sibuk mengurus tanaman.

Umak memang pribadi yang gampang sekali disukai banyak orang. Dia bukan Umak yang sempurna tapi dialah perempuan terkeren yang saya kenal di dunia ini. Dia tidak banyak bepergian. Menetap di desa yang sekarang menjadi 'rumah' untuknya. Ingin sekali mengajaknya keliling dunia ini bersama-sama. Melihat dunia lebih dekat dan lebih nyata. Terutama tanah suci. Ingin sekali mampu membawanya ke sana. Suatu hari nanti. Setidaknya 10 tahun lagi.

Semakin saya dewasa dan sekarang sudah menjadi seorang Umak juga, saya baru sadar betapa saya dulunya tidak memahami ibu saya. Betapa banyak bagian yang harusnya bisa saya isi dengan hal-hal yang menyenangkan untuknya. Seandainya bisa kembali ke masa itu. Ke masa-masa saat saya duduk di palang pintu sambil mengenakan celana super pendek kesukaan saya. Saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Ingin sekali bisa berkumpul bersamanya lagi. Tak peduli jika sesekali dia akan memukul atau mengomel. Tidak apa. Asalkan bisa punya banyak kesempatan bersamanya. Menunjukkan betapa saya menyayanginya.

Entah kapan bisa berkumpul lagi. Saya benar-benar rindu bisa seperti dulu. Melihatnya setiap hari. Mendengar suaranya juga setiap pulang sekolah. Tidak hanya lewat telpon yang hanya bisa mendengar suaranya. Dia yang jauh di sana dan menua di sekolah tempat dia membagikan ilmu-ilmunya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers