Langsung ke konten utama

Curhatan Umak-Umak


Saya merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini punya 'Umak' seperti ibu saya yang sekarang. Nggak pengen diganti dengan ibu yang lain karena ibu yang ini adalah yang terbaik buat saya. Walaupun dia punya banyak sekali perbedaan dengan ibu pada umumnya. Dia bukan tipikal ibu yang akan menelpon anaknya yang jauh darinya sesering mungkin, tapi dia selalu berusaha menjadi jalan keluar untuk setiap masalah anaknya. Orang tua memang selalu bisa mengorbankan apa saja demi anaknya. Asalkan anaknya bahagia dan senang hidupnya. Seisi dunia pun rela dia berikan jika memang mampu dia persembahkan.

Hari ini dia bercerita panjang mengenai tanaman yang dia rawat di sekolah tempat dia mengajar. Harus saya akui ibu saya ini memang orang yang sangat suka sekali membudidayakan bibit tanaman. Entah itu cabai atau sejenis sayuran. Sampai-sampai sering sekali dia memanennya di sekolah. Murid-muridnya juga ikut membantu bahkan Umak saya bilang sampai ada murid yang mentraktirnya minum es karena melihatnya sibuk mengurus tanaman.

Umak memang pribadi yang gampang sekali disukai banyak orang. Dia bukan Umak yang sempurna tapi dialah perempuan terkeren yang saya kenal di dunia ini. Dia tidak banyak bepergian. Menetap di desa yang sekarang menjadi 'rumah' untuknya. Ingin sekali mengajaknya keliling dunia ini bersama-sama. Melihat dunia lebih dekat dan lebih nyata. Terutama tanah suci. Ingin sekali mampu membawanya ke sana. Suatu hari nanti. Setidaknya 10 tahun lagi.

Semakin saya dewasa dan sekarang sudah menjadi seorang Umak juga, saya baru sadar betapa saya dulunya tidak memahami ibu saya. Betapa banyak bagian yang harusnya bisa saya isi dengan hal-hal yang menyenangkan untuknya. Seandainya bisa kembali ke masa itu. Ke masa-masa saat saya duduk di palang pintu sambil mengenakan celana super pendek kesukaan saya. Saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Ingin sekali bisa berkumpul bersamanya lagi. Tak peduli jika sesekali dia akan memukul atau mengomel. Tidak apa. Asalkan bisa punya banyak kesempatan bersamanya. Menunjukkan betapa saya menyayanginya.

Entah kapan bisa berkumpul lagi. Saya benar-benar rindu bisa seperti dulu. Melihatnya setiap hari. Mendengar suaranya juga setiap pulang sekolah. Tidak hanya lewat telpon yang hanya bisa mendengar suaranya. Dia yang jauh di sana dan menua di sekolah tempat dia membagikan ilmu-ilmunya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan