8 November 2015

Deadline Deadline di Dinding


Di kamar saya sekarang banyak sekali tempelan kertas yang isinya adalah deadline dan juga jadwal pekerjaan yang harus saya selesaikan. Mirip dengan wallpaper abstrak tapi nggak jelas mau dibawa ke mana arahnya. Sehingga saya bakalan lebih suka orang nggak masuk ke sini dan melihat semua tempelan tersebut. Tapi ya hidup memang penuh dengan tanggung jawab yang harus diselesaikan. Apalagi saya sudah banyak sekali mengabaikan blog ini dan membuat beberapa postingan tertunda. Harusnya saya bisa menyelesaikan lebih banyak. Nggak aneh kemudian pengunjungnya menurun jauh sekali dibandingkan dulu.

Saya ingat betul dulu, tepatnya tahun 2013, blog ini bisa mendapatkan pengunjung 1.000-2.000/hari. Bahkan pernah lebih dari itu. Itu karena saya konsisten sekali mengisinya. Terus saya juga belum menikah. Belum punya anak juga tentunya. Tinggal di kantor. Sehingga saya punya banyak sekali waktu yang bisa dihabiskan hanya untuk menulis. Dulu saya sampai heran ada orang yang tak bisa mengisi blognya setiap hari. Sekarang saya mengalaminya. Walaupun bedanya adalah saya akan menulis lebih banyak besoknya dan mengisi kekosongan itu dengan tulisan yang kelebihan saya buat.

Menikah bukan alasan saya sih sebenarnya. Memang setelah menikah saya jadi kurang bisa mengatur waktu lebih baik. Itu sebabnya saya membuat banyak sekali tempelan di kamar yang disebut sebagai wallpaper oleh keponakan suami saya. Kalau nggak ditempel seperti itu ya bakalan nggak ingat sama apa yang harus dilakukan. Lebih suka berbaring dan tertidur di samping anak lelaki saya yang semakin membesar.

Apa yang akan terjadi ya kalau dia sudah bisa bicara dan usianya sudah setahunan. Dia bisa saja ikut duduk bersama saya di depan PC dan memperhatikan apa yang saya kerjakan. Ah sudah tak sabar menunggunya lebih besar dan mengajaknya menulis bersama. Setidaknya saya akan punya seorang asisten lagi.

Deadline begitu banyak yang harus diselesaikan. Namun kalau saya tidak buru-buru menulisnya satu demi satu tak akan ada yang benar-benar selesai. Seperti novel-novel yang selama ini hanya ada dalam kepala saya. Ah saya kurang produktif buat bagian itu sekarang. Padahal dulu menerbitkan banyak novel selalu menjadi impian saya yang saya jaga baik-baik. Saat SMA dulu bahkan saya punya buku tulis tebal yang isinya cerita-cerita imajinasi saya.

Imajinasi yang berbeda jauh dengan teman-teman saya sehingga saya tak punya banyak teman di sekolah. Hanya beberapa teman baik yang sampai sekarang masih berhubungan lewat sosial media atau lewat telepon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers