24 Oktober 2015

Mindset: Suka-Suka Gue


Pernah nggak sih scroll lini masa media sosial kita dan menemukan sesuatu yang membuat dahi kita berkerut? Ada banyak sekali yang orang bagikan di akun mereka yang kadang membuat kita nggak nyaman. Saya sendiri sih tak perlu menunggu lama untuk mengenyahkan akun seperti itu dari lini masa akun saya. Daripada saya terganggu bukan? Itu mudahnya dunia maya.

Sangat gampang membagikan sesuatu atau menghapusnya walaupun belum tentu yang kita hapus itu benar-benar lenyap dari peredaran dunia maya. Sebab bisa saja sudah ada yang mengabadikannya dalam bentuk screen capture.

Saya rasa saya juga pernah seperti itu. Membagikan sesuatu tanpa banyak berpikir. Beda dengan sekarang yang akan berpikir berulang kali saat akan menuliskan sesuatu di media sosial. Soalnya akun kita punya koneksi dengan akun orang lain. Bukan sebuah buku diary yang bisa kita isi dengan hal-hal berlabel 'suka-suka gue'. Asal kita nyaman. Asal kita puas. Lantas kita tak memikirkan kenyamanan orang lain.

Mental 'suka-suka gue' ini banyak sekali saya temukan di facebook dan twitter yang membagikan hal-hal yang sebenarnya mengganggu buat orang lain yang mengikutinya. Biasanya mereka akan membuat pertahanan diri dengan mengatakan, 'kalau nggak suka unfollow aja' atau 'kalau nggak suka unfriend aja'.

Dunia maya terdengar mudah sekali ya.

Bagaimana kalau mental suka-suka gue ini dibawa ke dunia nyata? Kayak bakar sampah di halaman rumah kita dan asapnya ternyata masuk ke rumah orang lain. Apakah dengan mudahnya kita akan bilang 'jangan jadi tetangga saya' atau 'jangan hirup asapnya'.

Hidup tak semudah 'suka-suka gue' yang kita tasbihkan dalam kalbu kita. Karena hidup mau di dunia nyata atau maya ada etikanya. Sehingga melalui postingan ini, saya ingin meminta maaf kepada semua orang yang pernah membaca tulisan saya yang mengganggu kenyamanan teman-teman yang sedang berselancar di dunia maya.

Sekarang saya juga tak ingin mengeluhkan sesuatu secara berlebihan di media sosial. Masih banyak yang bisa disyukuri dan dipahami sebagai kenikmatan yang tak berujung dari Allah.

Jika sekarang, kamu yang sedang membaca ini masih suka mengeluh, sering-sering melihat ke bawah untuk mencari tahu siapa saja yang hidupnya masih di bawah kita tapi masih punya rasa syukur yang tiada henti dengan keadaannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers