3 Oktober 2015

I Thought You'd Never Ask

Sejuta cara kita lakukan untuk menemukan jawaban atas semua yang terjadi hingga hari ini. Lalu kita ternyata duduk di sini saling menatap dengan pandangan mata yang terlalu dalam. Selalu kamu katakan, hilangkan wajah sedih itu. Simpan. Jangan pernah tunjukkan.

Aku tak menunjukkannya hari ini.

"Apakah kamu mencintaiku?"

Pertanyaan yang sebenarnya akan menjadi berbeda rasa saat kamu tanyakan setidaknya dua tahun lalu. Ketika terakhir kali tangan kita masih saling menggenggam.

"Apakah masih perlu aku menjawabnya?"

Aku akhirnya menjawab sambil membuang pandanganku ke arah lain. Tak sanggup mengatakannya jika harus terus melihat matamu yang teduh itu. Mata telaga. Mata yang membuatku pernah tenggelam. Terlampau dalam. Tangan kita hari ini tak lagi saling terulur. Kamu begitu dekat. Tapi terasa sedemikian jauh.

Bolehkah kita kembali ke dua tahun belakang untuk membahas ini? Sebab rasanya percuma membahasnya sekarang.

"Aku hanya ingin tahu."

"Lantas apakah itu akan membuat perbedaan?"

Kamu tahu apa pun jawabanku tak akan memberikan perubahan yang berarti. Hidup kita akan terus berjalan. Sesuai yang kita pilih. Entah aku pernah masuk dalam pilihanmu atau tidak, kutak tahu dan rasanya tak lagi mau tahu.

"Kamu tak menungguku."

Aku tersenyum pahit. Menyembunyikan kesedihan yang menyiksaku sekarang. Tak adil rasanya kamu menimpakan semua kesalahan padaku. Aku menunggumu bertanya lebih dulu tepatnya.

"Apakah aku harus menunggumu?"

Kamu akhirnya tersenyum. Memamerkan sederet gigi indahmu. Senyum kecut yang baru pernah aku lihat.

"Aku memang bukan lelaki yang pantas untuk ditunggu."

"Kamu tahu keadaannya bukan seperti itu."

"Aku bahkan tak pernah tahu bagaimana keadaannya."

"Tapi kamu sebenarnya tahu bagaimana perasaanku sejak pertama kita bertemu hingga hari ini."

"Aku tak mendengarnya dari mulutmu. Sekadar tahu itu berbeda."

"Kita terlalu dewasa untuk menyatakan perasaan dengan kata-kata yang tersurat. Kita terlalu dewasa untuk tak memahami bahasa tubuh seseorang. Kita terlalu dewasa, Kanda."

"Tak bolehkah sesekali kita menjadi orang yang lebih berterus terang walaupun kita sudah cukup dewasa wahai Orang Cantik?"

Aku menarik napas panjang. Hingga rasanya seisi dunia terhirup ke dalam dadaku. Hari ini akan menjadi hari yang paling panjang dalam hidupku. Mungkin juga dalam hidupmu...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers