19 Oktober 2015

Anak Itu...



Anak adalah peniru yang paling ulung. Kalau yang ditirunya baik sih nggak masalah ya tapi kebayang nggak dia meniru hal yang buruk. Jangan sampai deh ya dia menjadi peniru untuk hal yang tidak baik. Saya sih bukanlah orang tua yang punya banyak pengalaman tetapi saya punya banyak pengalaman sebagai anak. Sebagai peniru. Saya beruntung mendapat contoh yang sangat baik dari orang tua saya. Walaupun disamping itu ada juga hal buruk yang saya lihat yang tidak saya contoh, karena sekarang saya sudah bisa memilah apa yang buruk dan apa yang baik.

Ngomong-ngomong soal anak, saya tentunya ingin menjadi contoh yang terbaik buat Raza. Walaupun saya tahu saya bukanlah orang yang sempurna untuk dijadikannya contoh. Ya seenggaknya dia memiliki nilai kebaikan yang melebihi rata-rata dibandingkan anak seusianya sudah cukup menyenangkan sih sebenarnya.

Ada hal yang cukup mengganggu saya beberapa waktu terakhir ini. Tentang ana-anak yang memperlakukan orang tuanya dengan tidak seharusnya. Ingin sekali rasanya saya mendatangi rumah orang tersebut dan membantunya pergi ke panti jompo saja. Dibandingkan harus dirawat oleh anaknya yang tidak memperlakukannya secara manusiawi.

Mohon maaf, saya kurang bisa menerima orang yang mengeluh tentang orang tuanya. Orang tua kita sudah banyak sekali melakukan hal yang baik untuk kita. Merawat kita sejak kecil. Sampai akhirnya kita mampu berdiri di atas kaki kita sendiri tanpa bantuan orang lain. Lalu apa yang bisa kita berikan untuk membalas itu semua? Haruskah kita mengeluh?

Lalu saya melihat orang yang punya anak juga yang sudah cukup dewasa. Sepertinya anaknya akan melihat bagaimana orang tuanya memperlakukan nenek atau kakeknya. Tahu nggak bagaimana kita memperlakukan orang tua kita, itu yang akan ditiru oleh anak kita nantinya. Dia akan memperlakukan kita sesuai dengan perlakuan yang kita berikan pada orang tua kita. Mengerikan bukan? Kebayang nggak kalau kita memperlakukan ayah dan ibu kita dengan buruk. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai.

Saya senang sekali ketika melihat Umak saya memberikan banyak hal untuk Uwan (nenek) saya di kampung sana. Bagaimana Umak memperlakukan Uwan saya akan saya ingat baik-baik. Kalau diberikan kesempatan saya ingin memperlakukan Umak saya melebihi dari yang Umak saya lakukan untuk Uwan saya. Bukan supaya Raza memperlakukan saya seperti itu nantinya. Namun karena saya tahu, seisi dunia ini tak akan mampu membayar apa yang sudah saya ambil dari Umak dan Abah saya.

Masih berpikir harus pamrih dengan orang tua? Merasa belum cukup banyak mengambil darinya? Mampukah kita membayar semua hutang itu nantinya?
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers