10 September 2015

Sang Pemimpi


Sebut saja saya demikian. Sebab kehidupan saya bisa berjalan hingga titik yang sekarang tak lain dan tak bukan karena mimpi-mimpi yang terus saya pegang. Semakin dewasa semakin banyak ternyata impian yang ingin saya raih. Apalagi sekarang sudah menjadi seorang ibu. Bertambah lagi mimpi-mimpi yang ingin saya jadikan kenyataan.

Indahnya menjadi seorang ibu baru bisa saya rasakan ketika telah mengandung selama 9 bulan dan mengeluarkannya dengan penuh perjuangan. Benar-benar indah. Pertama kali bisa melihat wajahnya dan akhirnya bisa mendengar suara tangisannya. Merdu. Merdu sekali. Apalagi dia lahir dalam keadaan sempurna. Alhamdulillah. Benar-benar anugerah yang tak akan tergantikan dengan ibadah sebanyak apa pun di dunia ini.

Melihat orang-orang yang tak memiliki mimpi yang besar, rasanya benar-benar disayangkan. Hidup mengalir saja seperti air yang mengikuti tempat yang lebih rendah. Begitu saja. Tidak inginkan dia melakukan sesuatu yang bermanfaat bukan hanya untuk dirinya tetapi untuk orang lain dan semua itu bisa terus bermanfaat walaupun dia sudah menutup mata pada akhirnya.

Entahlah...

Perbedaan cara bermimpi tentunya akan membuat cara kita bersikap di dunia ini akan berbeda. Sangat berbeda satu sama lain.

Saya punya banyak mimpi. Setelah satu mimpi terwujud, masih ada mimpi lain lagi yang ingin saya wujudkan. Mimpi yang terus bertambah bukannya berkurang meskipun mimpi demi mimpi itu menjadi kenyataan.

Mimpi itu seperti benih. Saat kita tabur, dia mulai tumbuh. Buahnya menghasilkan benih lagi yang menumbuhkan lebih banyak tanaman lagi. Begitu akhirnya sampai dunia ini penuh dengan benih, bunga, dan buah yang tak ada habisnya.

Sebut saja saya sang pemimpi dan saya mencintai semua mimpi-mimpi saya.

@honeylizious

Followers