10 September 2015

Pontianak Darurat Asap


Hari ini banyak sekolah yang akhirnya diliburkan. Karena kondisi Kota Pontianak khususnya sudah tak memungkinkan untuk beraktivitas terlalu banyak di luar rumah. Jangankan di luar rumah, di dalam rumah saja rasanya sudah penuh asap. Benar-benar banyak sekali asap yang muncul dan terhirup. Saya sendiri juga sesak napas, pilek, dan tenggorokan rasanya kering sekali. Kalau di Pontianak tidak segera turun hujan entah bagaimana selanjutnya kondisi kota ini. Di mana-mana kabut asap mengganggu penglihatan banyak orang.

Berkendara juga harus sangat hati-hati sebab jarak pandang ikut terbatas dengan adanya kabut asap ini. Entah ABA akan ikut diliburkan atau tidak nantinya sebab beberapa hari lagi jadwal kuliah akan segera dimulai.

Satu hal yang paling saya khawatirkan hanya kondisi anak saya. Saya takut dia batuk, pilek, seperti sebelumnya yang pernah dia alami dan mau tak mau minum obat karena khawatir kondisinya semakin memburuk. Kondisi udara yang sekarang ini juga kadang membuat dia susah untuk bernapas dengan lega.

Menyebalkan sih karena ini bukan bencana alam. Ini ulah tangan manusia sendiri yang membakar hutan. Hanya karena ulah sebagian orang yang mendapatkan akibatnya seluruh masyarakat yang berada di lokasi yang sama. Padahal kita tidak mendapatkan keuntungan dari pembakaran hutan besar-besaran ini.

Banyak orang yang sudah dibutakan matanya oleh uang. Segala-galanya diukur dengan uang. Itu sebabnya koruptor di Indonesia ini bukannya berkurang, malah semakin bertambah banyak. Semuanya demi uang. Lagi-lagi uang. Tuhan banyak orang sekarang adalah uang. Tak peduli dengan kerusakan yang dilakukan asalkan mendapatkan uang yang banyak dalam waktu singkat. Padahal masih banyak sekali cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan uang tanpa perlu menghanguskan hutan.

Saya ingat betul berita yang mengabarkan tentang seorang pemadam kebakaran yang meninggal dunia saat sedang bertugas memadamkan api di sebuah hutan di negaranya. Di negara kita jangankan untuk memadamkan kebakaran hutan, kitalah yang menyulut api untuk membakarnya. Supaya hutan bisa cepat ditanami tanaman yang menghasilkan uang.

Gara-gara uang, banyak orang menjadi pendek akalnya. Menjadi tak berpikir mengenai akibat jangka panjangnya. Seberapa banyak orang yang akhirnya menderita infeksi saluran pernapasan tingkat akut gara-gara pembakaran hutan ini?

Sampai kapan kita harus menjadi korban asap seperti ini?

 

@honeylizious

Followers