17 September 2015

Mengeluh di Sosial Media


Masih ngomongin soal sosial media yang sekarang ini memang sudah menjadi bagian hidup kita. Bukan sekadar penunjang lagi. Secara online, sosial media menjadi tempat untuk orang lain mengenal kita secara tak langsung dari tulisan yang kita posting atau juga dari foto yang kita bagikan.

Dulu saya sering kok mengeluh di sosial media. Sekarang sih sudah nggak pernah deh kayaknya mengeluh soal kehidupan pribadi. Pertama alasannya malu, tahu diri dengan umur yang sudah tak muda lagi. Apalagi di sosial media saya isinya juga bukan hanya teman-teman yang bisa jadi tempat bercerita melainkan juga berisi dosen atau guru saya sekolah dulu. Agak nggak sopan kayaknya menuhin status dengan keluhan melulu.

Keluhan juga bisa memberikan energi negatif buat sebagian orang yang membaca status yang kita buat. Tentunya tak ada orang yang ingin ketularan energi negatif bukan? Setiap orang ingin bahagia. Jangan sampai status yang kita buat malah membuat orang lain risau atau galau. Bisa jadi kan status yang kita bagikan seakan-akan mewakili perasaan orang lain. Ujung-ujungnya yang baca ikut-ikutan mengeluh.

Mengeluh di sosial media juga terlihat membuat kita ingin dikasihani oleh orang lain. Saat ada yang terganggu dengan kita yang 'memelas' di sosial media itu memberikan gangguan lo buat orang lain.

Jangan mentang-mentang yang punya akun adalah kita, jadi sah-sah saja buat kita menumpahkan apa pun di sana. Sosial media sama aja kayak kehidupan nyata. Punya aturan main. Kita mengganggu orang lho dengan status kita, apa pun isinya, nah minimalkan gangguan itu dengan energi yang positif. Sehingga orang lain yang membacanya nggak jadi negatif.

Saya jadi ingat dengan seorang teman yang sekarang sudah saya unfollow di facebook. Hampir setiap hari dia mengeluh di sosial media, seakan-akan dirinya adalah orang yang paling malang di dunia ini. Kayaknya dunia bakalan berakhir buat dia besok. Awalnya orang akan memahami saat tahu dia baru saja kehilangan orang tuanya. Tapi apa hanya dia di dunia ini yang kehilangan orang tua? Apa hanya dia yang butuh berjuang di dalam hidup?

Semua orang punya masalah dengan kehidupannya masing-masing. Jadinya agak menyebalkan saat kita tidak bersyukur dengan apa yang kita punya malah terus-menerus membagikan energi negatif dengan mencari perhatian banyak orang dan menunjukkan betapa kasihannya diri kita. Apakah menyenangkan dikasihani? Saya rasa lebih baik saya yang mengasihani orang lain daripada sebaliknya. Sebab tangan di atas selalu lebih baik dari yang ada di bawah.

Sosial media, adalah satu di antara banyak cara kita untuk berkomunikasi dengan orang lain menggunakan sarana yang kita punya, entah itu komputer atau smartphone. Manfaatkan dengan cara yang positif bukan hanya dengan keluhan yang memelas seperti itu. Mengingat sekarang ini yang kita cari pertama kali adalah gadget ketika bangun tidur, bukannya mematikan jam weker yang nyaring sekali bunyinya sejak sejam sebelumnya.

@honeylizious

Followers