11 September 2015

Kecubung Sempalai, Batu Akik dari Sambas



Musim batu sepertinya tidak sehangat beberapa bulan yang lalu ya. Entah saya yang tak mengikuti perkembangan perbatuan di negeri ini atau memang sudah seperti itu keadaannya. Saya sih memang tak begitu paham soal batu mulia kecuali batu mulia seperti berlian. Batu lainnya mah buat saya batu biasa aja. Untungnya suami saya nggak ikut-ikutan suka mampir ke tempat penjualan batu mulia. Bahkan cincin yang ada batunya hadiah dari abah juga tersimpan di laci tak dikenakannya.

Dia memang bukan orang yang cukup percaya diri untuk pakai perhiasan apalagi yang batunya besar begitu.

Ngomongin soal batu sebenarnya saya sudah lama sekali ingin menuliskan tentang batu yang satu ini. Bukan batu bacan yang sangat tersohor itu sampai-sampai banyak yang membuat tiruannya. Modal beberapa puluh ribu saja sudah bisa mendapatkan untung jutaan rupiah. Benar-benar bisnis yang menjanjikan buat sebagian penipu ulung yang ikut masuk ke pasar perbatuan.

Batu ini memang bukan berlian tapi saya suka sekali melihat baru ini. Apalagi batu ini berasal dari daerah saya. Kabupaten Sambas. Di Desa Sempalai, ada batu kecubung yang terbilang cantik di mata saya. Saya tak paham benar soal batu tapi sekali lihat saja saya langsung suka sekali dengan batu kecubung sempalai ini. Apalagi batunya yang jernih bisa memperlihatkan apa yang ada di dalam batu tersebut.

Teman saya punya cincin batu kecubung sempalai ini. Memang menarik bentuknya. Bahkan saya pernah liat batu kecubung yang bermotif karang. Seperti ada di bawah laut motifnya. Ada juga yang seperti ada serat atau rambut putih.


Kalau saya masuk ke dunia bisnis perbatuan ini saya rasa saya lebih tertarik menjual batu kecubung Sempalai ini. Setidaknya mengangkat daerah asal saya dilahirkan, Kabupaten Sambas. Apalagi tak sedikit orang yang bisa kaya dengan bisnis batu. Kalau punya banyak batu mulia yang langka tentunya akan sangat bagus untuk membuka perlelangan dan mendapatkan harga yang paling tinggi.

Walaupun kadang saya nggak habis pikir dengan orang yang rela menukar mobilnya dengan sebuah batu cincin yang ukurannya tak lebih dari ukuran jempol orang dewasa. Tapi itulah musim. Biasanya di Pontianak hanya ada musim hujan, musim kemarau, sempat musim batu, sekarang yang paling awet adalah musim asap. Banyak sekali orang yang terganggu pernapasannya karena tebalnya asap yang ada.
 

@honeylizious

Followers