13 Agustus 2015

Melebur Cincin Kawin


Kayaknya banyak nih yang punya pengalaman sama dengan saya. Setelah menikah beberapa lama ternyata cincin kawin nggak muat lagi. Akhirnya dimuseumkan deh karena tentunya sayang mau ditukar dengan cincin yang lain. Ada kenangan di dalam cincin tersebut yang rasanya sulit untuk digantikan dengan cincin mana pun yang ada di dunia ini. Begitu juga dengan saya. Cincin kawin sudah nggak muat padahal belum dua tahun menikahnya. Baru punya anak bayi satu dan ukuran cincin saya sudah berubah jauh? Rasanya sih nggak gendut-gendut banget setelah melahirkan. Soalnya anak saya minumnya ASI. Otomatis tubuh saya cepat banget turun beratnya.

Cincin kawin saya sempat teronggok beberapa lama di dalam laci karena memang tak muat untuk dipake. Eh sekarang sedang saya kenakan lagi lho. Karena memang sekarang sudah muat lagi. Cincin kawin saya yang ukuran sebelumnya 11 sekarang sudah saya jadikan ukuran 13. Padahal ukuran jari saya sebelum menikah itu 9, saya minta dibuatkan cincin ukuran 11 supaya saat tubuh melar, cincin masih bisa dikenakan, ternyata saya salah. Cincin tersebut tetap saja tak muat.

Saran saya sih buat yang akan melangsungkan pernikahan, tak ada salahnya memesan cincin yang bisa diubah ukurannya secara manual. Bukan seperti saya yang meleburkan cincin kawin saya dan mengubah ukurannya ke dua angka yang lebih besar. Sekarang pas banget di jari. Jadi agak menyesal tidak meminta angka 14 atau 15 saja supaya saat agak sempit cincinnya nggak perlu dilebur lagi. Lucu aja kan kalau tiap dua tahun yang saya lakukan adalah melebur cincin kawin.

Sisi positifnya adalah cincin kawin saya terlihat sangat mengkilat dan seperti cincin baru. Karena proses peleburan dan penambahan ukurannya tersebut. Kelamaan nggak pake cincin sekarang rasanya agak aneh pake cincin lagi. Maklum saya bukanlah orang yang suka mengenakan perhiasan. Makanya semua perhiasan yang saya punya saya simpan saja. Satu-satunya yang saya kenakan ya cincin kawin ini. Disebabkan ini 'cincin kawin'. Itu saja. Bukan karena saya suka pake cincin. Malah kalau perlu saya nggak usah make perhiasan aja. Lebih bebas rasanya.

Makanya saya agak aneh aja melihat orang yang suka mengenakan perhiasan sedemikian banyaknya. Mau asli apa palsu pokoknya sudah mirip toko emas berjalan. Apalagi kalau dalam acara arisan keluarga atau lebaran. Dapat dipastikan kita akan banyak sekali menemukan orang yang semacam ini. Apa mereka tidak takut ya menjadi korban tindak kejahatan karena terlalu banyak mengenakan perhiasan?

Teman-teman sendiri bagaimana?

@honeylizious

Followers