30 Agustus 2015

Buluh Perindu (2)



Kepada cinta yang tak sempat terucap. Kepada tangan yang tak sempat kugenggam. Kepada mata yang tak lagi bisa kutatap. Merindukah dirimu di sana. Apakah yang kamu rasa adalah sama? Atau ini hanya sebentuk luka yang semakin mengering. Luka yang ada tanpa keluhan derita? Karena cinta itu terlalu menggebu di antara deru jantung yang menggebu.

Iya kamu!

Suatu hari. Ingin rasanya bertemu kembali dan mengatakan. Aku sangat mencintaimu. Terima kasih untuk semua rasa jatuh cinta yang hingga sekarang pun masih membara.

Tentang kamu!

Casanova yang terpuja, membuncahkan banyak aroma cinta. Entah bagaimana menyatakannya. Kepada kamu yang sebenarnya sudah tahu tapi menutup bibir dengan senyuman menggoda. Membalang rindu ini padamu. Ingin menghentikan waktu ke kala itu. Kala senyum kita bertemu. Saat mata kita masih saling mengunci.

Kamu, Kanda!

Masih ingatkah kamu? Perindu yang kamu tanam sekarang masih terus kujaga. Bukan untuk meminta buahnya. Rumit. Tak bisa kuterangkan dengan seribu purnama. Karena kamu lelaki bersayapkan embun yang terbang rendah menuju taman bunga hatiku yang tandus, kala itu. Tetesan embun yang kamu bawa menghidupkan hatiku yang kering, beku serupa tanah kosong yang tak lagi diinginkan sang petani.

Dirimu itu!

Membuat ketidakwarasanku bertambah. Antara gila dan jatuh cinta rasanya serupa saja. Sebab kamu ada di dalamnya. Aku rindu. Itu saja. Dadaku sesak, penuh oleh buih-buih rindu yang tak akan lama hilang lalu muncul kembali memenuhi anak sungai di dalam hatiku.

Penyebabnya kamu!

Kan kutagih janji pertemuan itu suatu hari nanti. Entah saat kita sudah menua dan menertawakan masa-masa kemarin itu dengan gusi yang sudah tak lagi ditumbuhi gigi-gigi. Waktu rambutmu tak lagi sehitam sekarang yang membuatku iri karena indahnya.

Rinduku, kamu!

Barangkali buatmu aku adalah sebuah buku cerita yang terbuka lebar. Kamu tinggal membacaku di halaman mana saja yang kamu suka lalu menutupnya saat kamu pergi. Tapi kamu lupa, hatiku terbuka terlampau lebar saat itu untukmu. Kemudian aku lupa menutupnya kembali dan membiarkan ada lubang rindu yang menganga di sana. Karena buluh perinduku, kamu.
 

@honeylizious

Followers