25 Juli 2015

Buluh Perindu (1)

Kadang ada cinta yang lebih baik dibiarkan begitu saja. Disemai. Kemudian tumbuh. Membesar tanpa pupuk. Tak mendapat perhatian khusus. Kemudian cinta itu terus berkembang seiring perubahan musim dan arah angin. Kadang akan ada cinta yang tak kita mengerti. Cinta yang kita tarik-ulur sendiri. Kemudian kita pikir 'sebaiknya memang tidak untuk dimiliki'. Hanya ingin mengenangnya sebagai cinta saja. Begitu saja.

Cinta itu hidup dalam senyap. Jauh dari keriuhan apalagi yang kita sebut sebagai romantisme. Tapi cinta, membuat kita rindu. Buluh perindu. Cinta yang tak membuat menangis namun kadang masih terasa di hati. Cinta yang aneh. Lalu kita tak memutuskan untuk melupakannya. Malah memilih untuk merawatnya dengan cara yang berbeda.

Entah mengapa sulit menyatakan cinta yang satu itu. Padahal kita sepertinya sama-sama tahu. Betapa hangatnya pegangan tangan dan bahu sesuatu yang bernama cinta itu. Cinta kepada sang buluh perindu. Jarak dan waktu. Orbit yang berbeda. Bisa saja pertemuan sekali itu hanyalah sebuah tabrakan di atmosfir yang tak bisa kita hindari. Mempertemukan kita dengan orang yang tak pernah kita duga sebelumnya. Bahkan orang yang tak terlintas di kepala kita.

Memutuskan menunggu juga bukan hal yang bijaksana. Tetapi mengejar hal yang membuat kita tergila-gila sejak pandangan pertama juga tak enak didengarnya. Seperti ada pepatah yang mengatakan bahwa kita tak boleh memutuskan sesuatu ketika kita marah. Kita juga tak boleh menjanjikan sesuatu saat kita sedang gembira.

Sekarang kita hanya saling menyapa lewat jempol yang kita sematkan di sosial media. Tak mampu lagi rasanya mengajak bicara. Takut jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Takut rindu untuk kesekian kalinya juga.

@honeylizious

Followers