Langsung ke konten utama

Kue Nastar I Miss You



Nah selain kue putri salju yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, ada lagi nih kue kering kesukaan saya saat lebaran. Kue nastar. Kalau kue nastar ini memang kesukaan saya sejak kecil dulu. Umak di kampung suka menyediakannya. Bentuk yang dia pilih adalah yang seperti keranjang mini. Saya sampai berpikir bahwa bentuk nastar memang harus seperti itu. Padahal tidak ya? Semakin banyak mampir ke rumah orang saat lebaran saya menemukan banyak sekali bentuk nastar. Bahkan ada yang suka menyelipkan cengkeh di setiap nastar yang dibuatnya. Sehingga nastarnya ada aroma cengkehnya juga. Saya sih kurang suka yang ada aroma cengkehnya. Lebih suka yang benar-benar aroma nanas saja.

Dulu waktu kecil saya sering membantu ibu saya membuat kue nastar bersama saudara perempuan saya yang lain. Sekarang sih Umak lebih suka membeli kue kering di pasaran dibandingkan membuat sendiri. Soalnya bikin sendiri butuh waktu yang cukup panjang dan dia lebih suka menghabiskan waktu luangnya untuk mengerjakan hal yang lain. Dulu barangkali Umak masih senang memasak bersama kami semua. Sekarang anak perempuannya tak ada yang berada serumah dengannya. Tinggal dua anak laki-lakinya saja.

Saya ingat betul proses awal membuat kue nastar. Dimulai dengan membuat selainya terlebih dahulu. Memarut nanas yang sudah dikupas. Lalu nanas tersebut dimasak bersama gula hingga menjadi selai. Semakin sedikit kandungan air di dalam selai nanas ini semakin baik karena akan menambah masa aktif selai tersebut. Nggak cepat rusak selainya.


Saya juga ingat cetakan kecil yang digunakan Umak untuk membuat nastar tersebut. Saya rindu sekali dengan masa-masa tersebut. Umak, kakak sulung saya, saya, dan adik perempuan saya, kami berempat akan membuat kue kering tersebut bersama-sama sebelum lebaran tiba. Dari banyak kue kering yang pernah kami buat, saya pikir kue nastar adalah kue kering paling enak yang ada saat lebaran. Mungkin karena kenangan yang ada di dalamnya, dalam setiap kue itu ada kerja keras kami. Kebersamaan di tengah keluarga yang sangat saya rindukan. Meskipun sekarang saya sendiri sudah punya keluarga baru, tapi rasanya ingin mengulang masa-masa dulu yang pernah ada. Padahal hanya kue nastar tapi rasanya kue nastar yang dulu itu memang kue nastar kenangan. Kenangan yang tak bisa dilupakan begitu saja setelah sekian tahun berlalu.
 

Postingan populer dari blog ini

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan

4 Kerugian Bisnis di Oriflame

Banyak sekali kerugian yang bisa kita dapatkan ketika kita memulai sebuah bisnis, terutama Oriflame. Selama ini banyak dari kita yang memikirkan keuntungan dari bisnis Oriflame tanpa tahu bahwa banyak sekali kerugian tersembunyi yang bisa kita alami saat memulai bisnis di Oriflame. Oriflame memang banyak sekali yang telah membuat orang lain sukses secara finansial. Saya sendiri juga merasakan keuntungan dari bisnis Oriflame ini, sebab setiap bulannya saya selalu mendapatkan keuntungan berupa bonus yang ditransfer ke rekening saya. Sehingga saya dapat mengatakan bahwa karier saya sekarang di Oriflame, itu sebabnya saya akan lebih banyak menuliskan tentang bisnis Oriflame di blog ini dibandingkan menulis review untuk brand lain. Oriflame membayar saya lebih banyak dibandingkan brand mana pun. Dibayar bukan karena memuji ya tapi karena saya jualan produknya. Hahahaha... Sudah tahu kerugian apa yang kita dapatkan saat memulai bisnis di Oriflame? Berikut saya jabarkan satu perrs