30 Juni 2015

Meriam Karbit dan Asal Mula Nama Kota Pontianak


Inilah dia Mahakarya Indonesia yang ada di Pontianak, Meriam Karbit. Setiap tahun, ketika bulan Ramadhan tiba dapat dipastikan akan banyak sekali masyarakat Pontianak yang membuat meriam karbit. Terutama penduduk yang tinggal di dekat Sungai Kapuas yang membentang di Kalimantan Barat. Setiap tahunnya di Pontianak memang banyak orang yang akan membunyikan meriam karbit di pinggiran sungai, terutama di malam lebaran. Suaranya akan saling bersahut-sahutan dari pinggiran yang satu ke pinggiran yang lainnya. Saling beradu siapa yang mampu membunyikan meriam paling nyaring.

Sebenarnya meriam karbit ini dulunya digunakan oleh Sultan Syarif Abdurachman Al-Qadrie, untuk mengusir hantu pontianak atau kuntilanak yang kerap mengganggu. Bukan bagian dari perayaan hari besar seperti puasa dan lebaran. Nama Kota Pontianak sendiri berasal dari nama hantu yang berasal diusir oleh Sultan Syarif Abdurachmna Al-Qadrie sebelum akhirnya mendirikan kesultanan di kota tersebut.

Gangguan mahluk halus tersebut akhirnya bisa disingkirkan dengan menggunakan meriam karbit. Dahulunya meriam karbit dibuat menggunakan batang kelapa atau pinang. Seiring perkembangan waktu banyak orang yang membuatnya dari batang kayu yang besar sehingga bunyi yang dihasilkan juga akan semakin menggelegar.

Membuat meriam karbit yang besar dan yang bisa menghasilkan suara yang besar dibutuhkan proses dan waktu yang cukup panjang. Apalagi sekarang ini tak mudah mendapatkan batang kayu yang besar. Kayu yang sedianya akan dibuat meriam karbit biasanya akan direndam terlebih dahulu di dalam lumpur yang ada Sungai Kapuas. Tujuannya untuk membunuh serangga yang bisa merusak kayu yang akan dibuat menjadi meriam karbit tersebut. Kesabaran pembuatnya untuk menunggu batang kayu tersebut benar-benar siap akan dipertaruhkan untuk mendapatkan batang kayu yang bisa menjadi meriam yang baik.

Saat membuat meriam karbit ini juga tak bisa dilakukan sendirian. Beberapa orang dibutuhkan dalam proses pembuatannya apalagi jika batang kayu yang digunakan sangat besar. Akan diperlukan lebih banyak orang lagi untuk mengangkatnya. Masyarakat saling bergotong-royong dari awal pengambilan kayu sampai akhirnya meriam karbit tersebut selesai dibuat. Karena satu orang saja tak akan mampu untuk membuat sebuah meriam karbit. Apalagi untuk membuat meriam karbit juga harus ada orang yang pintar memahat bagian dalam batang kayu tersebut sebelum akhirnya sebuah meriam karbit siap untuk digunakan.



Perang meriam karbit yang diadakan di tepian Sungai Kapuas selalu menjadi objek wisata yang menarik buat banyak orang, lokal maupun asing. Walaupun sekarang ini hantu kuntilanak tak lagi mengganggu di daratan tetapi tradisi membunyikan meriam karbit terus dilestarikan oleh masyarakat Pontianak sebagai bagian dari tradisi dan budayanya. Mahakarya Indonesia yang semoga akan terus lestari.

@honeylizious

Followers