14 Maret 2015

Proud To Be Umak



Biar disebut norak atau kampungan, saya tidak perlu repot memilih panggilan yang tepat sebagai seorang Ibu. Sebab saya menginginkan panggilan seperti yang saya panggilkan pada Ibu saya. Umak. Tidak semua suku di Indonesia menggunakan panggilan ini. Satu di antara suku yang menggunakan Umak sebagai panggilan untuk Ibunya adalah suku yang berasal dari Sambas. Saya senang sekali jika nanti anak saya juga memanggil saya dengan panggilan yang sama.

Kayaknya sih suami saya bermasalah dengan panggilan itu. But hey, yang dipanggil itu kan saya kok dianya yang merasa terganggu ya? Hahahaha... padahal dia sendiri tak ingin anaknya memanggilnya 'bapak'. Padahal dulu dia memanggil ayahnya dengan panggilan 'bapak'. Dia malah ingin dipanggil 'Abah'. Sama seperti saya memanggil bapak saya sebagai Abah. Itu karena Abah dari Banjarmasin dan dia memang memanggil orang tuanya sendiri dengan sebutan Abah makanya dia juga menyebut dirinya Abah.

Dari kecil saya meyakininya begitu. Panggilan kita sesuai dengan cara kita memanggil orang tua kita. Jadi kalau kita akan menjadi Ibu, panggilan kita pada Ibu kita adalah yang akan kita terapkan. Begitu juga dari pihak laki-laki. Seperti adik laki-laki Umak saya, mereka dipanggil anaknya sebagai Ance'. Panggilan yang cukup jarang di dengar sebenarnya. Tapi demikianlah mereka menyebut Ayah di dalam keluarga dari pihak Ibu saya.

Jangan harap saya akan bangga disebut Mama atau Bunda karena sejak dulu yang saya inginkan hanya dipanggil Umak. Itu saja.

@honeylizious

Followers