Langsung ke konten utama

Cerbung atau Cerpen?

Kepikiran lagi buat bikin cerbung atau setidaknya cerpen di blog. Entah bakalan ada yang ngikutin atau enggak. Entah saya masih bisa menulis kisah cinta atau enggak. Mana kemampuan bahasa saya kayaknya belum banyak berkembang. Maklum saya kebanyakan baca komik dan tak banyak baca novel dengan bahasa yang beragam. Tahulah bahasa komik seperti apa kan? Tidak nyastra istilahnya. Walaupun demikian saya sangat menikmati gambar-gambar yang ada di dalamnya. Apalagi sekarang banyak sekali komik yang saya temukan menarik di Toko Buku 88 Pontianak.

Iya kalau buat komik saya lebih suka menyewa saja dibandingkan beli dan mengoleksi. Mengingat saya juga orangnya ceroboh dalam menyimpan barang. Dibandingkan harus kebingungan menyimpan komik dengan baik sih mendingan sewa aja. Sudah selesai tinggal kembalikan. Lomba-lomba kayaknya banyak  juga yang saya lewatkan karena kehamilan ini membuat banyak hal menjadi tak begitu penting. Saya lebih banyak tidur atau baca-baca tulisan tentang kehamilan. Untungnya sih kehamilan ini tak banyak masalahnya. Saya hanya kesulitan berjalan sih dibandingkan mengalami masalah yang lain. Susah jalan kayaknya jadi masalah banyak orang deh ya. Apalagi kalau hamilnya sudah masuk 8 bulan.

Terakhir saya menulis cerbung itu kayaknya belum selesai ya. Padahal saya bertekad ingin menyelesaikannya. Entah gara-gara nggak ada yang tanya jadi kurang semangat atau bawaan hamil jadi bingung mau menuliskan lanjutan yang seperti apa. Apalagi cerbungnya kelamaan dianggurin. Ah padahal dulu waktu masih menulis di buku yang tebalnya 500 lembar, saya selalu semangat menulis cerita sepanjang mungkin. Sampai terbayang-bayang di dalam kepala ini bagaimana jalan ceritanya terbentang.

Sekarang kayaknya mengambang ya, pengen bikin cerbung tapi yang belum selesai bagaimana? Apa kita pending dulu? Atau sebaiknya cerpen yang langsung selesai aja? 500 kata gitu? Hahaha... malah jadi galau. Ini pasti gara-gara belum dapat rumah buat buka kost-kostan. 

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan