6 Maret 2015

Butterfly In My Tummy (22)

Saya pikir di dalam perut saya tidak hanya ada kolam renang tapi juga lapangan bola. Gerakan sang bayi semakin ekstrim. Kapan saja dan di mana saja. Saya semakin susah tidur. Untungnya untuk kuliah sendiri saya masih bisa memaksakan diri untuk bangun walaupun sangat mengantuk. Selain itu saya juga semakin susah untuk berjalan dan naik tangga. Untungnya di ABA tangganya jaraknya pendek antara satu dengan yang lainnya. Sehingga tak perlu mengangkat kaki terlampau tinggi untuk ke kelas.

Teman-teman kampus sekarang bergantian memegang perut saya. Karena si bayi suka bergerak dan terlihat oleh mereka. Sebagai satu-satunya ibu hamil di kelas ya merasa diistimewakan jadinya. Teman-teman jadi lebih perhatian dan selalu bertanya saya pulang dengan siapa. Oiya mereka juga selalu bilang 'hati-hati' kalau saya mau pulang. Menyenangkan sekali menjadi seorang ibu hamil.

Walaupun saya kadang berpikir, apakah saya bisa menjadi ibu yang baik untuk dia nantinya? Apakah dia akan senang menjadi anak saya selamanya? Atau bagaimana dia saat sudah besar nanti? Saya waktu tahu pertama kali saya hamil mengalami ketakutan soal itu yang luar biasa. Sering saya menangis tengah malam karena memikirkannya. Sekarang sih sudah jarang. Kadang aja terpikir tapi cepat terhapuskan oleh semua tendangan yang saya rasakan.

Saya harus yakin bisa menjadi ibu yang baik untuk anak ini. Memberikan semua yang dia butuhkan dan segenap cinta yang saya punya. Agar dia tahu, bahwa dia adalah orang yang paling berharga yang akan selalu saya cintai sampai tutup usia nanti. Bahkan bisa saya katakan, cinta saya padanya akan jauh melampaui cinta saya pada Abahnya.

Oiya, saya tidak mengandung anak kembar seperti harapan saya. Satu aja sudah susah seperti ini apalagi kembar, tak terbayangkan ukuran perut yang akan saya bawa keliling Pontianak setiap harinya. Sekarang berat badan sudah 59kg. Berat tertinggi yang pernah saya miliki tapi yang berkembang hanya di bagian perut. Bagian lainnya masih seperti biasa. Tidak membengkak. Ukuran kaki dan tangan juga masih seperti saat saya 51kg.

HB (sel darah merah) saya saja yang turun mendekati kelahiran bayi ini. Sebab diambil oleh sang jabang bayi yang terus tumbuh. Sebenarnya untuk menambahnya dengan cepat cukup makan hati sapi dan telor ayam kampung. Tapi ya itu. Saya kurang suka hati sapi. Paling telor ayam kampung saja buat sarapan.

Beberapa kali saya mendengar ibu-ibu lain ngomongin soal lemak yang bisa jadi ada pada bayi tertentu. Karena ibunya kebanyakan pisang, katanya. Ada pula yang bilang karena kebanyakan makan bakso. Setahu saya jika yang mereka maksud adalah vernix, itu selimut alami bayi dan bukan hal yang harus dihindari. Malah sangat baik apabila bayi lahir penuh dengan lemak di sekujur tubuhnya. Sebab fungsi lemak tersebut adalah melindungi bayi yang baru lahir yang tentunya masih sangat rentan dengan penyakit.

Saya cuma agak heran ada yang melarang saya makan pisang karena khawatir bayinya akan lahir penuh lemak. Pisang baik buat saya dan lemaknya baik buat sang bayi. Jadi untuk apa takut dengan kehadiran lemak tersebut? Bahkan saat bayi lahir, lemak tersebut sebaiknya tidak langsung dibersihkan. Melainkan dibiarkan dulu beberapa jam. Apalagi sebenarnya lemak tersebut bisa terserap kembali oleh kulit bayi.

Saya rasa ibu hamil lainnya harus banyak-banyak membaca. Jangan hanya mendengar kata orang meskipun orang tersebut sudah punya banyak anak. Belum tentu pengetahuannya benar dibandingkan yang baru saja hamil.

Oke, saya lanjut hamil dulu ya!

@honeylizious

Followers