19 Februari 2015

Selamat Tahun Baru Imlek: Tahun Kambing

Tahun baru imlek datang lagi. Dapat dipastikan tengah malam tadi di berbagai belahan dunia dipenuhi oleh asap mercon dan kembang api. Pasti sangat meriah bunyinya ya? Saya sendiri nyenyak tertidur dengan earphone terpasang di telinga. Hanya earphone tak ada suara lagu atau apa. Untungnya tinggalnya bukan seperti di Jawai yang semua rumah di kiri kanan dan depan belakang rumah etnis Tionghoa. Kalau tidak dapat dipastikan bunyi dentuman mercon yang seperti bom akan membuat saya kesulitan untuk tidur nyenyak.

Imlek memang identik dengan kembang api dan mercon. Namun sekencang-kencangnya suara mercon masih kencang lagi suara meriam karbit saat lebaran. Itu juga sangat menakutkan. Bisa pucat saya dibuatnya. Satu hal yang paling saya rindukan saat imlek adalah kue keranjang yang manis dan harum. Saya suka sekali kue keranjang yang sudah mengeras dan tak lengket saat dimakan. Apalagi kalau digoreng dengan balutan telur kocok. Ah enak sekali. Gurih dan harum telur di luar lalu manis di bagian dalamnya.

Buat yang suka kue keranjang yang lembut bisa mengukus kuenya kembali saat sudah mengeras. Tahun ini tahun Kambing. Berarti usia adik sepupu perempuan saya yang paling besar sudah 24 tahun. Padahal dulu rasanya dia masih kecil sekali. Sekarang sama dewasanya dengan saya. Sebentar lagi pun dia akan berulang tahun di tahun Masehi.

Kangen dengan Jawai kalau imlek begini. Teman-teman sekolah saya dulu pasti semuanya ada di sana. Ah merayakan imlek bersama mereka pasti sangat menyenangkan. Apalagi kalau berkumpul dengan geng jaman SMP dulu. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kami berkumpul di tahun baru imlek. Berkeliling ke rumah teman-teman yang lain bersama-sama. Apalagi ada teman-teman yang sudah punya anak juga.

Saatnya untuk berbagi cerita selama kami tak bertemu. Seandainya bisa pulang. Sayangnya kehamilan saya sudah semakin besar. Tak mungkin rasanya bepergian terlampau jauh. Apalagi untuk ke Jawai harus naik terlalu banyak kendaraan umum. Terutama motor air. Suami pasti tak mengizinkan.

Di Pontianak sendiri ada sih tetangga yang bisa dikunjungi. Jadi tetap bisa merasakan kue-kue khas tahun baru walaupun orang yang saya rindukan tak bisa saya temui. Ingin sekali mengulang masa lalu. Bercerita bersama mereka lagi. Padahal dulu saya benar-benar ingin cepat besar dan tak tahu dunia dewasa itu seperti apa.

Sekarang saya sudah dewasa, demikian pula dengan mereka. Beragam masalah dalam kehidupan sudah menjadi bagian hidup kami. Beda dengan dulu. Tak banyak yang harus dipikirkan. Bisa tidur dengan nyenyak setiap hari tanpa banyak berpikir soal apa yang akan terjadi esok hari.

Tahun Kambing ini semoga menjadi awal tahun yang baik buat kita semua ya. Happy Lunar New Year everyone!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers