15 Februari 2015

Butterfly In My Tummy (16)

Ternyata pergerakan yang selama ini saya rasakan belum ada apa-apanya dibandingkan yang berikutnya. Semakin bertambah usia janin ini gerakannya semakin lincah. Bergerak dengan penuh energi. Kadang gerakannya bisa terlihat dari luar perut. Belum jelas itu gerakan tangan atau kakinya. Saya belum merekam video apa pun walaupun gerakannya sangat jelas sekarang. Masih mikir mau direkamnya bagaimana?

Pakai smartphone dan tripod? Soalnya maunya merekam setiap hari nantinya. Kemudian digabung dan dipercepat biar bisa melihat gerakannya dengan lebih jelas. Akan jadi kenangan yang indah sekali pasti buat sang bayi. Setidaknya dia bisa melihat proses selama saya hamil dan dia masih belum lahir ke dunia.

Gerakan-gerakan inilah mungkin yang akan saya rindukan saat dia sudah dewasa nanti. Bahkan suatu hari dia akan memulai kehidupan barunya bersama orang lain. Ah... padahal dia lahir saja belum. Sudah panjang sekali yang saya pikirkan. Bagaimana dia akan memulai sekolah dasarnya. Apa saja yang akan dia bawa untuk sekolah nanti. Begitu banyak hal yang ingin saya lakukan bersamanya nanti.

Sekarang masih harus menunggu sampai dia benar-benar lahir ke dunia ini. Entah bagaimana dia nantinya. Setidaknya sehat dan tidak banyak rewel sudah sangat menyenangkan. Sebab melihat dua bayi yang lahir di keluarga suami yang usianya beberapa bulan rasanya tak tega. Mereka banyak sekali rewel dan menangis.

ASI harus siap sedia dalam jumlah banyak ni. Soalnya saya tidak tega memberinya susu formula selama usianya masih dibawah 6bulan. Kalau bisa malahan dia tak perlu minum susu formula. Sepenuhnya ASI sampai dia usia beberapa tahun. Seperti saya waktu kecil dulu. Selama kuliah harus menyediakan ASI perah di kulkas buat dia minum sebelum saya pulang.

Pengennya sih bisa bersamanya sepenuh 6bulan. Tak ingin meninggalkannya sama sekali. Tapi kehamilan yang tak disadari membuat saya sudah terlanjur mengambil jadwal kuliah di STBA. Sekolah Tinggi Bahasa Asing. Iya sekarang bukan Akademi Bahasa Asing, sudah naik status menjadi sekolah tinggi.

Pengalaman menjaga dua adik sebelumnya menjadi pengetahuan yang sangat berharga untuk menjaga anak saya sendiri. Dua adik laki-laki dengan perbedaan sifat dan kebiasaan. Terutama dalam kerewelan. Jadi teringat dengan adik bungsu saya yang beranggapan bahwa anak saya saat lahir nanti akan menjadi adiknya. Bukan keponakan. Padahal dia akan menjadi paman sebentar lagi dan dia masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 3.

Saya sendiri tak membayangkan bahwa paman anak saya ini masih sangat kecil dan malahan dia bisa menjadi abangnya. Ternyata dua kelahiran adik saya menjadi cerita tersendiri buat anak saya nantinya. Bagaimana mereka berteman dan menghabiskan waktu bersama saat mulai dewasa nanti. Pasti menyenangkan punya paman yang usianya jaraknya tak jauh dari dirinya.

Beda dengan saya yang pamannya sudah terlanjur tua saat saya mulai sekolah dulu. Jadi ada jarak usia yang sangat jauh dibandingkan usia anak saya dengan pamannya nanti.

@honeylizious

Followers