Langsung ke konten utama

Butterfly In My Tummy (13)

Susah tidur selama kehamilan membuat saya sadar tentang banyak hal. Terutama tentang mudah tidurnya sang suami. Dia hanya butuh 2-5 menit berbaring dan langsung terlelap ke alam mimpi. Lengkap dengan dengkurannya. Padahal rasanya dia sudah banyak tidur siang. Setiap malam seperti itu. Mau dalam keadaan sehat atau sakit, saya iri betul dengan kemampuannya untuk gampang tidur. Terlepas dari dengkurannya yang kadang membuat saya teringat dengan bunyi mesin motor air menuju Jawai.

Sementara saya setiap malam akan menuju alam mimpi setelah berbaring berjam-jam dengan segala tendangan dari dalam perut. Namun setiap dia tidur lebih dulu saya senang sekali memperhatikan matanya yang tertutup rapat dalam keremangan cahaya. Membelai pipinya. Kemudian saya menyadari bahwa saya akan menua dengan laki-laki ini. Satu hal yang luput dari pikiran saya saat menerima lamaran pernikahannya.

Bagaimana bisa saya lupa bahwa kami akan menjadi nenek dan kakek bersama-sama. Membesarkan anak berdua. Menyaksikan rambut kami memutih dimakan waktu. Sama seperti Aki yang menua di sisi Uwan. Saya benar-benar lupa bagian itu. Ketika malam tiba dan saya masih belum bisa tidur baru saya menyadari kenyataan itu. Bahwa pernikahan bukan akhir dari sebuah cinta yang bahagia melainkan awal dari sebuah kehidupan yang sebenarnya.

Apakah saya menyesal menikahinya?

Saya sampai sekarang memikirkan itu berulang-ulang pun selalu bersyukur saya menikahi laki-laki ini. Laki-laki yang suka sekali nonton FTV tapi tak pernah mampu seromantis pemeran pria di dalam FTV tersebut. Laki-laki yang tak banyak bicara tentang dirinya. Kadang saya pikir saya masih tak mengenalinya dengan baik walaupun sudah bersama setiap hari. Bahkan sekarang bagian dari dirinya ada di dalam rahim saya.

Janin ini yang dia tunggu-tunggu. Meskipun dia tak pernah mengatakan ingin saya segera hamil, tapi sekarang saat melihat ekspresinya setiap kali tangannya mengusap perut saya untuk merasakan tendangan sang jabang bayi, saya tahu, dia sudah menunggu sekian lama. Dia sudah siap menjadi seorang ayah untuk anaknya. Anak yang mungkin akan setalkaktif ibunya atau sependiam ayahnya.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan