Langsung ke konten utama

Butterfly In My Tummy (8)

Selain pertanyaan 'kapan hamil' atau 'sudah isi' ada lagi ternyata pertanyaan yang cukup mengganggu. Bagi saya sangat mengganggu sih ditanya soal jabang bayinya perempuan atau laki-laki. Orang anaknya belum lahir sudah pada nanyain. Masalahnya sampai hari ini dokter sendiri belum tahu jenis kelaminnya. Bagaimana saya harus menjawabnya?

Tapi memang banyak orang tidak merasa kurang ajar untuk menanyakan jenis kelaminnya. Saya jadi mikir, memangnya kalau perempuan atau laki-laki mengapa? Ada apa sih dengan orang-orang yang suka bertanya seperti itu? What's wrong with you people? Toh pada akhirnya yang akan mendidik dan membesarkannya adalah saya dan suami. Bukan orang lain. Apalagi orang yang sama sekali nggak ada hubungan darah.

Menurut saya aneh orang yang bisa mengeluarkan pertanyaan privasi buat orang lain. Kayak 'kapan wisuda', 'kapan nikah', dan termasuk 'kapan hamil'. Kayak nggak punya perasaan pada perasaan orang yang ditanya. Bagaimana kalau yang ditanya menjadi tidak senang dan tak tenang dibuatnya? Hanya gara-gara pertanyaan basa-basi nggak penting.

Makanya kadang saya suka malas bertemu dengan orang yang suka nanya-nanya nggak jelas. Saya sih tak suka basa-basi kayak gitu. Karena menurut saya lebih banyak basinya dibandingkan budi bahasanya. Percaya deh kamu nggak pernah nanya seperti itu aja akan ditanyain sama orang yang kurang kerjaan dengan model pertanyaan mengganggu. Apalagi kalau kamu hobi sekali kepo dengan hal-hal yang sebenarnya nggak memberikan pengaruh dalam hidupmu.

Masih suka bertanya dengan pertanyaan mengganggu?

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan