6 Februari 2015

Butterfly In My Tummy (7)

Ibu. Umak. Bunda. Mommy. Dialah orang yang pertama kali muncul di dalam kepala saya ketika saya tahu saya mengandung. Saya sering memikirkan bagaimana ya rasanya waktu Umak mengandungkan saya? Apa yang saya lakukan di dalam sana. Berapa banyak tendangan yang saya lakukan? Apakah Umak senang melihat wajah mungil saya untuk pertama kalinya?

Satu hal yang pasti saya rasakan hingga hari ini. Bahwa saya tak bisa membalas apa pun yang telah Umak rasakan dan lewati hanya untuk membuat saya ada. Betapa dia sangat kuat dan tak bisa dibandingkan dengan apa pun yang ada di dunia ini. Akhirnya saya mengerti mengapa posisi ibu didahulukan sampai 3 kali dibandingkan ayah di dalam Islam. Memang demikian tingginya posisi seorang ibu di dunia ini.

Sewaktu menikah tahun 2013 lalu, yang jelas, saya melihat cinta Abah untuk saya. Sedangkan saat hamil saya merasakan cinta Umak yang mengalir di dalam darah saya. Sama seperti saya mencintai bayi yang ada di dalam perut saya walaupun kami belum bertemu sama sekali. Hanya gerakan-gerakan tubuhnya yang terasa di dalam perut ini.

Dia mengajari saya banyak hal. Mengajari saya untuk lebih kuat. Lebih sabar. Bahkan lebih bersyukur dengan banyak hal yang ada di dunia ini. Hal-hal kecil sekalipun. Itulah ajaibnya ketika kamu akhirnya hamil. Merasakan banyak hal yang selama ini barangkali hanya lewat begitu saja. Saya bersyukur tak membuat ancang-ancang untuk cepat hamil kemudian kecewa karena tak kunjung hamil.

Sebab banyak pasangan yang dibikin pusing karena belum dikaruniai anak di dalam keluarga kecilnya padahal sudah lebih dari setahun menikah. Saya sendiri tak sampai setahun akhirnya benar-benar hamil. Hamil yang tak disadari. Bahkan saya ingat banget ketika ada yang bertanya apakah saya sudah hamil saat masuk ABA beberapa bulan lalu, dengan enteng saya menjawab 'belum'. Padahal saat itu saya sudah hamil sebenarnya. Saya tak sadar sama sekali.

Namun satu hal yang harus dipahami. Bahwa hidup bukan soal siapa yang lebih dulu menikah atau kemudian punya anak. Sebab di luar sana masih banyak sekali orang yang belum menikah atau sudah menikah tapi belum diberikan momongan. Ada yang sampai menua tak diberikan keturunan sama sekali. Apakah kebahagiaan mereka harus berkurang hanya karena ada yang kepo bertanya 'sudah isi' atau 'kapan hamil'. Itu pertanyaan yang sangat mengganggu buat sebagian orang. Terutama saya sendiri.


Saya sendiri tak pernah menanyakan hal seperti itu pada orang. Itu privasi yang harus dihormati. Saya rasa. Entah apa pendapat orang lain di luar sana.

@honeylizious

Followers