21 Februari 2015

Butterfly In My Tummy (20)



Ternyata memang saya lebih gendut dari sebelumnya. Walaupun kenaikan berat badan saya baru 5kg dari waktu pertama positif hamil. Saat itu janinnya baru berukuran 2cm. Jadi berat badan saya masih normal sekali. Berbeda dengan sekarang yang bertambah satu orang dengan kelengkapan air ketuban dan lain-lain di dalam sana. Sekarang berat badan saya total 56kg. Untuk pertama kalinya berat badan saya mendekati 60kg.

Jadi ingat waktu masih ada tumor di payudara sebelah kiri. Nutrisi yang masuk ke tubuh saya disedot semua oleh tumor tersebut sehingga tubuh saya tinggal tulang waktu itu. Dengan tinggi yang sama, tapi berat badan saya kisarannya hanya 37-38kg. Memang terlalu kurus. Seperti orang malnutrisi saja. Sampai-sampai mencari celana yang sesuai dengan ukuran pinggang saya saja susah.

Tak terbayangkan bahwa sebenarnya waktu itu ada parasit yang membuat saya tak bisa menaikkan berat badan. Kedengarannya enak. Makan apa saja tidak menjadi gemuk. Namun kalau karena penyakit kan seram juga. Dua tahun setelah operasi payudara berat tubuh saya mulai naik dan normal. Bahkan agak gendut sewaktu saya selesai PPL di MAN 1 Pontianak.

Bisa 50kg dulu bagai mimpi. Kaget, seneng, semuanya bercampur menjadi satu. Eh sekarang malah bisa mendekati 60kg. Jangan-jangan akan lebih saat janin ini sudah benar-benar siap dilahirkan ke dunia. Seseorang yang selama ini hanya bisa saya impikan. Sebab pernikahan saja rasanya jauh sekali dari pelupuk mata.

Oiya usia kandungan saya sudah lebih dari 32 minggu. Apabila tak ada halangan, April nanti saya sudah melahirkan dan menjadi seorang ibu. Mengejutkan rasanya. Merasakan tendangannya yang semakin keras saja sudah sangat menyenangkan. Apalagi bisa melihat senyumannya.


Proses mempersiapkan nama sudah selesai. Tetapi paling susah nyiapin nama untuk anak perempuan. Walaupun sebenarnya banyak sekali yang bisa digunakan sebagai nama anak perempuan. Takutnya namanya terlalu pasaran. Beda dengan menyiapkan nama laki-laki yang mudah sekali.

Entahlah...

Nama mana yang akan menjadi nama anak pertama saya. Apalagi waktu saya bertanya pada suami, dia sepertinya tidak berniat menyumbang nama buat anaknya gara-gara dia beranggapan saya sudah memborongnya semua. Ya sudahlah hehehe... Pada akhirnya nama ayah akan menjadi bin/binti anak kami kok.

Saya belum ke dokter kandungan lagi untuk mendengar dia mengubah tanggal prakiraan kelahiran. Habisnya setiap USG selalu berubah. Jadinya bingung. Kapan sebenarnya saya akan melahirkan? Jangan sampai saya mules di tempat yang tidak tepat. Apalagi kalau saat suami tak ada di sisi saya dan masih sibuk mengantar dagangannya.

Pengennya ngejambakin rambut suami kalau memang kontraksinya menyakitkan. Ah memang akan menyakitkan sih dari yang banyak saya dengar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik. Semua komentar yang masuk akan dimoderasi. (admin: Honeylizious [Rohani Syawaliah]).

@honeylizious

Followers