16 Februari 2015

Butterfly In My Tummy (17)

Akhirnya ketemu juga dengan tukang urut orang hamil. Pengennya sih diurut supaya bagian yang sakit cepat sembuh. Maklum sekarang mau jalan kaki aja susah banget. Kaki kanan bagian paha atasnya ngilu banget. Ternyata tukang urutnya malah memperbaiki posisi sang bayi. Posisi bayi yang sempat sunsang dan melintang, sekarang sudah berada di posisi yang benar.

Cukup menyakitkan pas diurutnya. Tapi sudah agak tenang karena posisinya sudah tak sunsang lagi. Soalnya kalau sunsang pasti susah melahirkan secara normal. Saya sendiri tak ada rencana buat melahirkan lewat operasi. Pengennya normal aja. Takut aja membayangkan harus dibelah perutnya lalu dijahit kembali. Memang mendingan normal saja sih. Sesuai dengan yang Umak jalani sampai 5 kali.

Tak terbayangkan melahirkan sampai 5 kali. Bagaimana sakitnya ya? Soalnya bidan yang tadi mengurut saya mengatakan bahwa rasa sakit tertinggi untuk setiap perempuan di dunia ini adalah saat melahirkan. Tak ada rasa sakit yang bisa menandingi rasa sakit tersebut. Baru diurut saja sakitnya bukan main apalagi pas ngelahirin ya.

Makanya nggak beh durhaka sama orang tua. Itu sih yang saya ingat setiap hari. Terutama pada Umak. Soalnya sampai sekarang rasanya masih belum sepenuhnya berbakti pada Umak dan Abah. Tiba-tiba saja sudah diambil orang dan dijadikan istri. Untungnya selama ini tak pernah membentak Umak. Bicara kasar pun menakutkan kalau terhadap Umak. Apalagi sampai mendurhakai semua kepercayaan beliau.

Itu sebabnya saya juga ingin dipanggil Umak. Sama seperti saya memanggil ibu saya, Umak. Bukan mama apalagi bunda. Aneh saja rasanya dipanggil selain Umak oleh anak saya nantinya. Semoga saja mereka tidak malu memanggil saya dengan panggilan dari kampung saya itu. Umak. Hanya Umak. Bukan yang lain.

Tadi sehabis urut sih bagian perutnya yang lumayan nyaman. Bagian paha kanan atas masih agak ngilu. Cara saya berjalan pun jadi sedikit aneh. Sedikit pincang kelihatannya. Saya seharusnya banyak-banyak berjalan, tapi gara-gara kaki yang sakit begini, jalan-jalan kaki di halaman jadi sedikit menyakitkan. Berbeda dengan naik turun tangga yang ternyata lebih mudah dari jalan di jalanan yang datar.

Semoga omongan bidan, dokter, benar bahwa nanti saat sudah selesai melahirkan paha kanan atas saya tak lagi susah digerakkan. Jalan kaki pun tak sesulit sekarang. Mengingat saya masih banyak sekali kegiatan di luar rumah. Kadang kita kurang mensyukuri kesehatan yang diberikan oleh Allah sampai akhirnya diberi penyakit yang membuat kita sadar selama ini kita diberkahi dengan banyak sekali kesehatan.

Bidan yang mengurut saya hebat sekali. Sekali pegang dia langsung tahu usia kandungan sudah lebih dari 6 bulan. Padahal hanya bidan kampung. Sudah tua pula. Tapi sampai sekarang dia masih menerima banyak panggilan untuk membantu orang melahirkan dan sampai prosesi gunting rambut. Saya sendiri tak berniat untuk menggunakan jasanya untuk membantu melahirkan. Saya masih ingin dibantu oleh bidan puskesmas atau dokter kandungan saja.


Bagaimana dengan teman-teman sendiri yang sekarang sedang mengandung juga?

@honeylizious

Followers