Langsung ke konten utama

Tidak Perlu Korupsi!


Entah sejak kapan manusia semakin mendewa-dewakan uang. Seakan uang adalah segalanya. Tanpa uang apakah kita tak akan bisa hidup di dunia ini? Sementara di luar sana ada orang yang memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa memiliki uang. Pasti banyak yang sudah membaca mengenai perjalanan hidup seorang lelaki yang memilih untuk tidak menggantungkan kehidupannya pada uang. Jadi orientasinya memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa menggunakan uang sama sekali.

Tahu Mark Boyle? Coba deh baca Moneyless Manifesto-nya. Saya rasa ini akan sedikit mengurangi pendewaan kita mengenai uang adalah segalanya. Sebab kepercayaan ini, menuhankan uang akan membuat kita bertindak di bawah jajahan uang itu sendiri. Kita menilai segalanya berdasarkan uang dan tentu saja itu tidak relevan. Tuhan sendiri tidak menilai kita baik atau buruk dari sebanyak apa uang yang kita punya. Sebab kalau begitu, surga hanya milik orang kaya saja dong?

Setiap dari kita, tidak butuh korupsi. Tak perlu melakukannya sama sekali. Karena korupsi itu sama saja dengan mencuri. Mencuri pada tingkatan yang kita sendiri rasanya tak akan sanggup menanggung akibatnya. Bukankah setiap orang yang mencuri harus dipotong tangannya? Bagaimana dengan yang mencuri uang negara? Cukupkah hanya dengan memotong tangannya saja? Atau ada hukuman lain yang bisa membuat setidaknya calon koruptor menjadi sedikit ciut nyalinya saat dihadapkan pada bahaya korupsi?

Hidup ini seperti sebuah balap gila. Tak ada garansi di sana. Jadi jangan berharap bahwa uang akan memberikan garansi untuk apa pun. Pada akhirnya, kita hanyalah mayat yang berkalang tanah. Ketika detak jantung berhenti, uang sebanyak apa pun tak ada gunanya. Apakah kita sudah lupa bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang memberikan manfaat buat orang lain? Setidaknya, kalau tak mampu menjadi manfaat janganlah kita membiarkan diri kita menjadi orang yang memberikan mudharat bagi orang dengan menjadi seorang koruptor.

Saya rasa, siapa pun koruptornya, apa pun alasan melakukan tindakan korupsi itu sendiri, bagaimana dia sendiri bisa terjebak di dalam lingkaran itu tak akan mengubah fakta bahwa dia sudah menjadi bagian dari pencurian uang negara. Bahkan lebih jauh lagi, dia sendiri menghancurkan bukan hanya kehidupannya tapi kehidupan keluarganya dan banyak keluarga lainnya yang barangkali akan menjadi lebih baik tanpa korupsi yang dia lakukan.

Cobalah kita tanya pada diri kita sendiri, apakah kita benar-benar membutuhkan uang itu sampai-sampai kita menghalalkan tindakan korupsi untuk mendapatkannya? Atau masih ada banyak sekali cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari bahaya laten korupsi?
 

Postingan populer dari blog ini

Cara Mengetahui Orang Stalking Twitter Kita, Siapa Stalkersmu?

Siapa yang sudah menggunakan jejaring sosial yang satu ini? Sudah punya banyak temankah di sana? Mention bagaimana? Banyak juga yang hadir setiap harinya? Atau kadang merasa 'twitter' itu mirip dengan kuburan karena bingung mau ngapain aja di sana. Banyak memang orang yang pada awalnya kebingungan menggunakan twitter. Apa yang sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya ditulis. Akun seperti apa yang sebaiknya diikuti. Semuanya sebenarnya kembali lagi ke pribadi masing-masing ingin menggunakannya seperti apa. Karena konsekuensinya juga ditanggung diri masing-masing. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Lama-lama, alah bisa karena biasa akan berlaku. Sebab memang kalau sudah sering membaca lini masa dan sudah mengikuti banyak akun. Kita akan menemukan pola ngetwit kita sendiri. Meskipun demikian, bukan itu yang ingin dibahas dalam tulisan ini. Saya rasa banyak yang penasaran dengan cara mengetahui orang yang stalking akun twitter kita. Orang yang melakukanny

Hati-Hati Belanja di Tokopedia Pakai AnterAja

Selama ini saya selalu puas belanja di berbagai marketplace yang ada di Indonesia termasuk di Tokopedia. Karena selama ini pengirimannya yang saya gunakan ya itu-itu saja. Kalau nggak JNE ya JNT. Pernah juga menggunakan SiCepat. Sudah lama sekali tidak berbelanja di Tokopedia dan saya bulan ini ingin beli kamera dan di Tokopedia saya menemukan kamera yang saya inginkan.  Prinsip saya begitu order langsung bayar supaya barang cepat sampai. Saya tidak sadar kalau pengiriman yang default di aplikasi adalah ekspedisi AnterAja. Tidak pernah menggunakan dan baru dengar. Karena saya pikir memang AnterAja melayani sampai ke Pontianak ya nggak ada masalah dengan pengirimannya. Sampai akhirnya saat tulisan ini saya posting, paket kamera yang saya beli tak kunjung sampai. Googling sana-sini. Buka twitter buat komplain hingga akhirnya menemukan banyaknya orang yang komplain dibandingkan puas dengan layanannya dan bahkan review di google juga jelek. Banyak sekali yang memberikan bintang satu. Terma

Menulis 500 Kata

Sekarang sepertinya harus bekerja lebih keras lagi. Saya banyak sekali menulis artikel yang terlampau pendek. Bahkan banyak sekali postingan yang hanya berisikan gambar. Kalau hanya seperti itu saya yakin banyak orang yang akan bisa membuat postingan jauh lebih banyak dari yang saya bisa lakukan. Jadi sekarang sepertinya saya harus mengubah tantangannya menjadi lebih menarik. Saya harus menulis setidaknya 500 kata untuk setiap artikel yang saya buat. Supaya lebih terasa menantang dan saya tak hanya sambil lalu lagi mengupdate blognya. Sebab akhir-akhir ini ketika menyelesaikan jumlah postingan saya akhirnya suka mengambil beberapa gambar yang sudah saya unggah di instagram dan memasukkannya ke blog menjadikannya satu postingan. Padahal hanya diikuti satu dua kata saja. Bahkan pernah tak ada tulisan apa-apa. Memang menulis 10 postingan sehari bukanlah hal yang mudah untuk membagi waktu dengan persiapan pernikahan. Tapi tantangan memang harus dibuat seberat mungkin bukan? Bukan